Jumat, 22 September 2017

Mama, Aku Dibully

Yuk mulai sekarang ajarkan anak kita untuk berani cerita apapun kepada orang tuanya, cerita sedih atau pun senang. 

Untuk kali kedua nih saya menulis soal bully. Sejak penulisan pertama saya mulai mengganti tagar saya di sosial media ketika memposting foto anak saya, dari yang awalnya #ilovenaylambem menjadi #ilovealanisnaylaramadhani.

Panjang ya tagarnya😀,  kalau pakai kata cantik nanti ada yang protes, "halooo anak saya lebih cantik tauuuu", hi...hi... Serta berpesan pada suami saya untuk melarang teman kantornya memanggil anak saya dengan nama suami.

Kok bisa? anak perempuan saya ini mukanya seperti pinang dibelah dua dengan suami saya (bukannya biasanya begitu ya, anak perempuan mirip ayah). 
tu kan mirip
Buat saya saat ini, panggilan-panggilan seperti itu adalah bully kecil-kecilan dari orang dewasa.  

Serius amat sih mak, ho...ho...soalnya habis dapat pencerahan dari Vera Itabiliana Hadiwidjojo pakar psikolog untuk anak dan remaja di acara Ghatering Kumpulan Emak Emak Blogger dan #SinarmasMSIGLife tanggal 9 September 2017 kemarin, dengan tema "Menyikapi Bullying Pada Anak"
Vera itabiliana hadiwidjaja
Orang Dewasa Pelakunya

Biasanya orang dewasa tidak sadar melakukannya, ketika mereka memanggil Ndut... Mbem... Pesek. Saya dulu salah satu yang tanpa sadar ikut melakukannya.

Lucu-lucuan pastinya tanpa bermaksut menyakiti, lah wong saya sendiri sempat bikin tagar dengan kata mbem. Kadang anak saya protes dengan bilang "iiih mama", maaf ya nak.

Jadi sedih membayangkan perasaan mereka, ketika mereka dijawil pipi atau perutnya sambil bilang iiih ndut banget. 

Saya biasanya selalu protes, kalau ada yang bilang begitu ke anak saya, "Maaf ya mam, Nayla gak suka dibilang ndut". Apalagi saya lihat muka Nayla cemberut sambil berjalan pergi.

Trus bagaimana bila pelakunya guru yang seharusnya ikut bertanggung jawab menghentikan bully di sekolah?.

Misalnya mengatakan anak ini mungkin anak berkebutuhan khusus, ketika melihat muridnya pendiam sekali di sekolah. 

Atau memberi panggilan dengan nama tokoh film tertentu yang kebetulan gendut, tembam dan plontos kepalanya. Ini pertanyaan yang khusus saya ajukan di acara ghatering tersebut.

Menurut psikolog cantik ini, guru boleh-boleh saja mengatakan anak muridnya ABK (anak berkebutuhan khusus), asalkan sudah melakukan observasi menyeluruh setelah merujuk anak tersebut ke psikolog, terapis dan neurolog.

Tapi jangan lantas memberi label anak itu dengan ABK seperti Autisme dan Hiperaktif.

Intinya, jangan gampang menilai dan memberi label kepada seseorang, apalagi tidak berkompeten untuk bicara soal itu. lebih baik fokus pada cara menangani kesulitan anak tersebut di sekolah. 
Pelakunya Teman Sebaya

Nah Anak-anak seperti ini menurut vera,  awalnya iseng, merasa memiliki kekuatan yang lebih dibanding  anak lain, senang dapat perhatian karena kelakuannya  dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.

Menangani anak seperti ini pelaku dibiasakan minta maaf kepada korban dan orang tua korban.  Dia harus tahu banyak pihak tersakiti. 

Vera menegaskan,  rumah adalah fondasi untuk memproteksi terhadap timbulnya bullying pada anak. 

Seperti penerapan pola asuh, manajemen emosi, empati (anak akan berlaku sama dengan yang dia terima), bangun pertemanan,  cara menyelesaikan konflik dan sikap asertif. 

Yaitu suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang dirasakan,  dipikirkan dan diinginkan kepada orang lain. Namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak dan perasaan pihak lain.
Menurut Vera, colek gengsi anak. Bahwa yang dilakukan pelaku bully itu, cara atau kelakuan yang paling rendah, jangan ditiru, lakukan hal yang cerdas.

Siapa Saja Yang Jadi korban 

Semua bisa jadi korban. Biasanya korban tidak percaya diri, takut disalahin, yakin tidak ada yang menolong, lebih parah lagi tidak sadar kalau jadi koban.

Contoh yang paling gampang, kita masih ingat dong ya, ketika masih kecil, nama bapak kita di jadikan nama panggilan dan lebih beken ketimbang nama kita.

Padahal itu termasuk tindakan bully lo, tapi kita tidak sadar bahkan kadang ikut-ikutan. Dan sampai sekarang masih terjadi.

Akibat Bully

Ketika menulis ini saya jadi sedih lagi, karena teringat anak saya pernah mengalami ini, di bully kecil-kecilan.
https://diarynayla.blogspot.co.id/2017/08/?m=1

Bully ini jahat dan efeknya berbahaya sekali untuk si korban. Mereka bisa berhenti sekolah, harga diri buruk bahkan korban bisa bunuh diri.

Dari data KPAI komisi perlindungan anak Indonesia, ada 67 kasus bully terhadap anak, menurut Vera, ini hanya kasus-kasus besar. 

Terjadi peningkatan pada tahun 2015, menjadi 97 kasus besar.
http://www.kpai.go.id/berita/mengejutkan-bullying-di-sekolah-meningkat-jadi-perhatian-serius-jokowi-dan-kpai/

Di penghujung seminar, pakar psikologi anak dan remaja Vera Itabiliana hadiwidjojo memberikan nasihat yang bagus, kebetulan saya sudah terapkan di rumah sejak lama. 

Beritahu anak anda bahwa dia bisa bercerita apapun kepada orang tuanya, biasakan untuk memeriksa badan anak, dengan cara memeluk, dipijat sebelum tidur sehingga bisa diketahui bila ada yang janggal pada tubuh anak,  seperti memar atau luka.

Karena ada anak yang tidak berani bercerita atau menganggap itu luka biasa karena tidak sakit,  padahal habis ditendang temannya. 
Jangan lupa juga ya mengajarkan anak untuk membantu temannya bila melihat ada temannya yang di bully, minimal bisa memberitahu, guru atau orang tua korban. 

2 komentar:

  1. yup, ajak anak selalu berani melapor, berani berkata tidak sama yg bully dan berani tegas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, bully bisa terjadi bila korban hanya diam ya mba

      Hapus

Kota Bertabur Cahaya Ala Signify City of Light

Hi Mom.... Pernah gak membayangkan kamar tidur kita memiliki pencahayaan sesuai mood yang kita rasakan?, misalnya kalau lagi happy kep...