Rabu, 05 Desember 2018

Kota Bertabur Cahaya Ala Signify City of Light

Hi Mom....

Pernah gak membayangkan kamar tidur kita memiliki pencahayaan sesuai mood yang kita rasakan?, misalnya kalau lagi happy kepingin langit langit kamar cahayanya berwarna kuning, lagi pingin santai warnanya biru.

Atau menyalakan lampu di lantai kamar yang bisa menuntun kita ke menuju kamar mandi misalnya, hanya dengan sentuhan kaki di lantai?. 

ketika tidur kita biasanya kan mematikan lampu kamar, karena memang tidur yang sehat dan benar itu dengan cahaya seminim mungkin atau dimatikan sama sekali. Pastinya tengah malam ketika terbangun ingin ke kamar mandi, kita harus meraba raba tembok untuk mencari stop kontak dengan mata setengah mengantuk. 

Dengan sistem pencahayaan melalui koneksi interact yang menghubungkan pencahayaan ke data atau Internet of Things (IoT), kita cukup meletakan kaki di lantai, lampu yg ada di lantai akan menyala dan menunjukkan arah ke kamar mandi, whuiiiii kereeeen.

Seandainya punya fasilitas dan teknologi ini pasti nayla anak saya, akan matiin lampu pas dia tidur di kamarnya sendiri. Karena biarpun sudah 12 tahun dia, kalau mau ke kamar mandi tengah malam pasti mengetuk pintu kamar minta ditemenin ke kamar mandi.

Apa hanya ini keunggulannya? enggak dong untuk di kamar saja, dengan satu sentuhan  di satu tombol, kita bisa mengatur lampu langit langit, lantai hingga alarm (biasanya kita pakai alarm dari jam kecil atau pakai hape kan).

Kecanggihan teknologi ini saya saksikan bersama para blogger dan media  pada tanggal 3 Desember 2018 (uwooow pas anipersery akyu nih💙😊) acara peluncuran  Signify City of Light  di Main Atrium Senayan City, yaitu pameran dari produk Philips  yang selalu ada inovasi inovasi baru.

Sementara Signify ini menjadi nama perusahaan baru  dari Philips Lghting sejak 16 Mei 2018, nama legal dari Signify baru akan diterapkan di Indonesia pada awal 2019.

Nah untuk melihat pertunjukan cahaya yang spektakuler ini, kita bisa main main ke Senayan City dari tanggal 1 Desember 2018 -13 Januari 2019.

Disana kita bisa melihat ikonik "Gaze of Light" menara setinggi 16 meter yang akan memproyeksikan  pertunjukan cahaya dekoratif oleh Signify.
Bareng Mba Indri dan Mba Ria (pakai kamera Mba Ria)
Selain memberikan pengalaman yang menyenagkan bagi pengunjung, masih banyak inovasi lainnya, salah satunya seperti yang saya ceritakan di awal tulisan, pencahayaan di dalam kamar, walaupun baru di terapkan nantinya di kamar kamar hotel, tidak menutup kemungkinan akan diterapkan di rumah kita.
Untuk sistem pencahayaan rumah kita, ada sistem pencahayaan rumah pintar atau Philips Hue. Yaitu mematikan semua lampu dengan satu sentuhan, bahkan bisa mengubah suasana ruang tamu menjadi bioskop rumah (wah ini keren nih, kita biasanya seminggu sekali nonton bareng di rumah biar bonding kita makin kuat).

Tidak hanya untuk kebutuhan rumah dan hotel, sistem pencahayaan pintar ini juga bisa diterapkan di kantor di industri, yang membantu karyawan menemukan ruang ruang pertemuan atau ruang kerja yang kosong dan adanya manajemen pencahayaan terpusat mengurangi  biaya operasional.
Rami Hajjar, Country Leader untuk Signify Indonesia
Yang paling menarik sistem pencahayaan yang disebut Light Fidelity (LIFI), sebuah teknologi pencahayaan LED berkualitas tinggi yang juga menyediakan koneksi sambungan internet pita lebar (broadband) mirip dengan WIFI, tetapi menggunakan gelombang cahaya.
Wiiih keren nih, pas banget untuk  di gunakan di tempat-tempat di mana frekuensi radio dapat mengganggu peralatan, seperti rumah sakit atau ketika sinyal WIFI tidak dapat mencapai area kita.

Caranya gampang, penjelasan sederhananya, kita masukkan password kita melalui perangkat LIFI, terus berdiri deh di bawah lampu yang terkoneksi dengan LIFI. Karena kan sambungan internetnya ada di lampu itu.
Nah silahkan pakai sambungan internet di bawah lampu ini
Kebayang deh, ketika Nayla dewasa nanti dunia ini sudah canggih luar biasa, semua bisa dikerjakan cukup dengan sekali sentuh, asalkan tidak membuat manusia menjadi malas bergerak karena sudah capek berfikir, obesitas euy.

Apapun hasilnya saya senang masih menikmati semua kecanggihan teknologi ini.
Kamera Mb Indri
Kamera Mba Sadewi
Kamera Mba Ria

Senin, 03 Desember 2018

Undangan Pernikahan yang Ajaib

Jadi kepingin nulis tentang undangan pernikahan kita dulu, gara-gara lihat postingan salah satu teman di facebook, yang bilang undangan nikahnya sederhana, simple bahkan ada yang komentar "ini pestanya di Mc D ya" hi...hi..., apa kabar dong dengan undangan nikah kita yang ajaib.

Undangan bernuansa ajaib  sebenarnya karena masalah dana yang ketat, pas kerja dulu saya gak pernah nabung, biasalah anak muda  gaji tiap bulan buat foya foya, mau beli apa saja gak pakai  mikir dan gak lihat harga pula hi...hi... 

Nah pas 6 bulan sebelum hari H (3-12-2005), diajak nikah sama ayang mbep seperti tersadar, langsung ngebut nabung, soalnya kita berduakan anak yatim ceritanya dan sudah bertekad kalau menikah harus  biaya sendiri, gak mau ngerepotin mami dan mama kita berdua.

Setelah dikumpulin uang tabungan kita berdua, ternyata banyak biaya dan paket pernikahan yang harus dipangkas, seperti foto prewed kita  hapus hiks, padahal banyak ide foto mau dituangkan, pakai baju bola, kita berdua lagi di ruang  siaran (waktu itu kita berdua masih sekantor di kantor berita radio 68H), atau lagi di laut berenang bareng lumba lumba (nah kalo ini beneran khayalan😀).

Sedih sih, tapi seperti calon suami bilang cincin nikah dan undangan kita bikin seperti yang kita mau. Apalagi kita harus beli perlengkapan isi rumah tempat tinggal kita nanti, jadilah konsepnya yang sederhana aja deh.  

Untuk cincin nikah dari dulu kepinginnya dari emas putih dan ada lumba-lumbanya. Dari yang tadinya kepingin lumba lumbanya dua ekor akhirnya diganti 1 ekor saja, dari yang bentuknya agak melingkar sampai akhirnya pose rebahan.

Begitupun undangan, gw pinginnya tetap ada si lumba lumba, karena ikan ini ikan yang paling setia sama pasangannya cieeeee... dan petikan kalimat cinta dari Kahlil Gibran sedangkan  calon papanya Nayla ini  pingin ada foto Ruud Van Nistelroy, pemain bola idolanya. Weees kita yang mau nikah, kita bikin semua seperti yang kita mau.

Biar gak penasaran nih eke kasih fotonya biar pada takjub😁
Tampak depan, undangan dan cincin nikah kita
Tampak belakang, inikah pengantinnya? wkwkwkkwk
Udah kelar ketawanya atau malah nangis lihat undangan nikah kita?. Banyak yang nanya sih, apa itu foto pengantinnya? lah trus masa Nistelroy pasangannya lumba lumba wkwkwkwkw.

Seperti gak serius tapi semua gak bisa protes, kan kita yang mau  nikah, biaya juga gak minta siapa siapa, jadi dengan pede kita sebarlah undangan itu, jaman dulu belum ada whatsapp, dan sosmed.

Jadilah kita keliling mengantar satu satu, bahkan menempel undangan di setiap tempat wartawan nongkrong, pokoknya siapa aja di undang deh, beruntungnya teman liputan kita sebagian besar sama orangnya.

Akhir cerita pesta memakai adat Palembang, sesuai daerah kelahiran mami (kebetulan adiknya suami menikah lebih dahulu dengan adat Padang) berlangsung dengan meriah, lancar dan membahagiakan.

Karena banyak pihak yang membantu, seperti terman satu kontrakan di Utkay Ucu agustin,  bikin video personal yang mewawancarai semua teman kantor dan tamu undangan lain, serta  adik saya menyumbang suvenir, soal suvenir saya ceritain dikit ya, saya kepingin suvenirnya mobil VW mainan dari keramik, karena selain lumba lumba saya ini pecinta mobil VW kodok dan kura kura.

tapi pas dua hari sebelum hari H, tukang suvenirnya bilang dia gagal memenuhi pesanan adik saya karena hujan terus jadi keramiknya gak kering, mau marah waktu sudah mefeeet, terpaksalah beli yang ada, untung ada keramik kura kura.

Tapi tetap calon pengantin wanita yang manjyaaaah dan imut imut ini nangis sesengukan karena suvenir nikah impian buyar sudah. Walaupun calon suami saya bilang kan undangan sama cincin pernikahan sudah seperti yang saya mau. 

Tangis saya baru stop setelah melihat adik saya menurunkan kotak besar dan berat dari motornya, ya Allah konyol banget ya saya menangis untuk alasan yang gak penting, sementara adik saya sudah dengan ikhlas membelikan suvenir bahkan mengambilkan langsung dari tokonya.  

Kebahagiaan lainnya saya terima dari Santi  radio Cakrawala, yang  menyumbang satu grub band kumplit dengan alat musiknya plus kendaraan mereka untuk bolak balik.

Padahal sempat sedih lagi, membayangkan pesta pernikahan kita akan sepi tanpa ada musik gedumbrang gedumbreng. Gak hanya itu teman teman kantor seperti, Atik, Monique, Stania, Wildan dan teman teman adik saya, jadi pager ayu dan pager bagus.

Sedangkan Sandra bekas teman satu kantor bahkan satu meja jadi MC pernikahan bersama Rendra sepupu suami, bahkan ada teman yang meminjamkan uang 500 ribu karena ATM kami seperti ucapan mas pengisi bensin, saat kita isi bensin, Kembali ke NOl ya om hi...hi...makasih ya Iman.

Kita ternyata dikelilingi oleh keluarga dan teman - teman yang  baik, apalagi kita juga dibikinin wedding cake sama Ita salah satu sahabat terbaik (adik saya sampai gak tega makan cake itu karena ada muka kita berdua hi...hi...).

Hadiah penutup,  kita dikasih tiket pesawat berdua pulang pergi dari Ina adiknya suami,  untuk melihat langsung lumba lumba di laut Lovina, yaaaay. 

Seru..... Dan semua ke rempongan menyiapkan pernikahan itu, berbuah manis, hari ini 3 Desember 2018, kita (saya dan Doddy Rosadi) sudah mengarungi lautan penuh lumba lumba selama 13 tahun dengan buah cinta kami Alanis Nayla Ramadhani (12th).    

Tulisan ini sudah berulang-ulang saya ceritain ke Nayla dengan pesan yang sama, cari jodoh yang baik seperti papa (ehmmm...) yang rajin sholat, gak merokok, dan gak minum (kalau sudah bagian ini, Nayla pasti bilang nanti haus dong ma😋).

Yang paling penting rencanakan pernikahan yang menyenangkan buat mereka berdua bukan menyenangkan orang lain, dan sesuai dengan kemampuan, seperti yang kami lakukan. 

Kecepetan sih nasihatnya tapi kan gak tau apa kita sempat kalau nasihatnya dikasih pas dia sudah mau nikah.  Aaaah Happy Anniversary ya buat kita, doakan kami langgeng  sampai maut memisahkan, Aamiin.

Kota Bertabur Cahaya Ala Signify City of Light

Hi Mom.... Pernah gak membayangkan kamar tidur kita memiliki pencahayaan sesuai mood yang kita rasakan?, misalnya kalau lagi happy kep...