Selasa, 21 Januari 2020

Mengenang Alm. Ging Ginanjar

Hi Mom....
Ada beberapa orang dalam kehidupan gw yang bisa gw tulis di sosmed atau blog kalau dia punya kesan yang cukup bikin hidup gw berwarna salah satu Almarhum Ging Ginanjar.
Yup dia sudah meninggal setahun lalu 20 Januari 2019. Gw gak cerita tentang sakitnya mas Ging tapi kenangan ketika dia jadi salah satu mentor gw di KBR 68h 2000-2004
Ada beberapa yang gw inget tentang almarhum Ging Ginanjar, karena selalu gw ceritain nyaris berulang ulang ke Nayla.
Bulan November tahun 2000 mas Ging jadi salah satu yang menyeleksi calon calon reporter untuk KBR 68h, pas ketemu dalam hati gw bilang ooooh ini yg namanya Ging yang ada dibalik media Suara Independen dan yang bikin temen temen gw pingin gabung di AJI (Aliansi Jurnalis Independen).
Kebetulan waktu kuliah gw langganan media bawah tanah  Suara Independen (alm. Bapak selalu wanti wanti untuk hati hati kalau bawa pulang media ini, maklum cuaca politik saat itu horor banget)

ada pertanyaannya yang bikin gw sebel ketika interview kerja "kok belum nikah".
Berhubung belum diterima gw cuma bilang, ya belum aja pacar saya beda agama (untung gak gw terusin doi pacar orang pula hiiks), cuma gw tambahin memang masalah gitu kalau belum nikah?.
Mas Ging bilang, enggak juga sih. Andai dia tahu saat itu dia juga menginterview calon suami eke Doddy Rosadi hi..hi...,
Soal amplop untuk wartawan.
Gw bilang pernah terima, gak bisa nolak karena dikasihnya diatas pesawat ketika terbang liputan ke suatu daerah (waktu itu gw sudah bekerja di harian umum ABRI). Wartawan yang diajak di pesawat itu hanya 5 media dan semua media top itu ambil amplop yg dikasih waaaks.
Pastinya gw bilang dong ke kantor, bos di kantor bilang ambil saja. Karena media gw waktu itu memang corong pemerintah, amplop gak diambil berita tetap dikirim dan harus ditulis sesuai yang mereka mau.
Tapi kalau nurutin hati nurani gak maulah, gengsi gw lebih gede ketimbang si amplop, dan maunya nulis sesuai fakta. Jawaban ini mungkin yang bikin gw lolos dan jadi salah satu reporter KBR 68h.
Satu lagi yang gw ingat ketika harus laporan pagi, gw bilang belum ada yg bisa dilaporkan karena acara belum dimulai karena masih jam 6.30.
Belum ada yang datang, dan dengan polosnya gw bilang gw ada di seberang lokasi liputan karena lagi nukerin uang 100 rb buat bayar taksi (waktu itu gw telfon teman yang sudah ada di lokasi untuk tahu situasi).
Mas Ging langsung marahin gw, dia bilang jadi wartawan jangan ngurusin uang kembalian tinggal aja yang penting langsung di lokasi.
Sakit hati pastinya, lah wong tanggal tua uang tinggal selembar dan eke pantang minjem minjem. Tapi sejak itu semalam apapun gw tuker uang receh biar gak direpotin sama alasan supir gak punya kembalian (belum jamannya pake gopay euy).
Mas Ging juga bikin gw ketawa ngakak, ketika dia balikin matras yoga (dulu ada guru yoga yang datang ke kantor tapi jamnya gak pernah pas sama eke) ada bekas telapak kaki segede gaban di matras, kaki mas Ging kayak perahu😋 
Selamat jalan mas Ging, makasih buat semuanya cerita ini tetap akan ada diingatan gw walaupun mas Ging sudah gak ada. Semoga semua amal ibadahnya diterima Allah, Aamiin

Sabtu, 04 Januari 2020

Car Free Day Ditengah Hujan, Seruuuuuu

Hi Mom...

Gw pingin cerita tentang Car Free Day nih. Arena buat olah raga yang dilakukan di jalan utama setiap hari minggu, jalanan ini biasanya ditutup untuk kendaraan umum kecuali TransJakarta selama kurleb 5 jam.

Biasanya nih setiap kali mau CFD di Thamrin, kita pasti menginap di hotel yang dekat lokasi CFD. Biar santai gak buru buru harus bangun pagi menuju lokasi.
Sayangnya pas 4 Januari 2020 dari sabtu malam dan minggu pagi hujan terus, walaupun cuma rintik rintik.

Untung gak menyurutkan niat kita naik bis pariwisata, melihat Monas dan Istana di malam hari. Sudah sering cuma seru aja keliling naik bis pariwisata dengan penjelasan lokasi sekeliling oleh pemandu wisata.
Paginya Nayla sempat bete karena hujan kembali turun, untung sarapan di hotelnya lumayan enak. Kayaknya sebagian besar yang sarapan juga sudah siap untuk CFD karena pakai baju olga dan sepatu keds.
Kelar sarapan kita ganti baju di kamar hotel, sambil berharap hujan mereda. Dari jendela kamar  banyak yang pakai jas hujan, topi dan payung kita akhirnya ikutan CFD di tengah hujan.  

Seli teteup gak kita dikeluarin dari mobil takutnya hujan deras banget basah kuyup sepedaan, kan gak lucu. CFD nya tetap seru karena sambil hujan hujanan sedikit tapi gak bisa cuci mata lihat dagangan di pinggir jalan semua pada menepi.

Jauh juga kita jalan, rasanya sih sudah bakar kalori tapi keringat gak keluar, lah wong hujan hi...hi....
Kali ini kita nyobain nginep di Artotel  hotelnya lumayan juga ternyata Artotel Thamrin (maaf yeee bukan endorsan, tapi gw baik hati untuk ngasih link). 

Selain kamarnya bersih tiap kamar disediakan mesin pembuat kopi Dolce Gusto (masih kerabatan sama hance keknya😝).
Kita bukan penikmat kopi, cuma minum kopi ala ala yang ada jelly dan topping ice cream you know wholah buatan siapa, tapi teteup dong nyobain bikin kopi pake si Dolce kapan lagi yekan.

Biarpun sudah ada petunjuk cara memakai alatnya gw masih buka yutub biar yakin hi...hi... Pas sudah jadi cuma diseruput dua teguk. Kapan kapan bolehlah balik ke hotel ini lagi.

Sabtu, 28 Desember 2019

Sin Lie Seng, Toko Sepatu Kesayangan Almarhum Bapak

Hi Mom...
Kenal dengan toko sepatu Sin Lie Seng yang berlokasi di Pasar Baru, Jakarta Pusat? buat generasi milenial mungkin namanya sedikit asing karena mereka pasti lebih sering membeli sepatu di mal.

Tapi buat generasi 80 an, apalagi kalau punya orang tua yang sering belanja keperluan sepatu untuk keluarganya pasti ingat toko yang sudah berdiri sejak tahun 1943 ini.

Gw contohnya, alm. bapak pelanggan tetap toko ini sampai beliau meninggal tahun 1999. 

Makanya pas libur natal kemarin begitu tahu Suami gw mau ngajak mama mertua dan adik ipar makan soto St. Mangkuto di Pasar Baru, gw minta buat mampir karena tahun lalu gagal buat mampir.

Kali ini pun nyaris gagal, karena habis makan mama minta sholat Dhuhur di masjid Istiqlal sayang gak bisa ke sana karena parkiran penuh sama yang mau ikut misa natal di gereja Khatedral.

Karena bawa mama mertua yang pasti bete kalau sholat dhuhurnya ditunda, pupus sudah harapan buat lewat ke dalam area toko sepatu. 

Ternyata ban mobil kempes, jadi mau gak mau kita cari dong tukang tambal ban.

Suami saya yang baik hati sengaja nyari putaran buat ke tukang tambal ban lewat ke dalam Pasar Baru. "kok lewat sini?" tanya gw. "loh katanya mau lihat toko sepatu bapak", katanya. Ah bahagianya. 

Gemetar euy pas masuk, ini toko sepatu kulit langganan alm. bapak di Pasar Baru. Bertahun tahun dia selalu pesan sepatu di sini.
Sejak bapak meninggal tahun 1999, praktis kita gak pernah kesini lagi.

Bapak suka beli di sini karena buatannya rapi dan awet. Tapi dia gak suka model sepatu yang ada di toko, jadi dia minta dibuatkan model khusus yang simple dan warnanya hitam.

Sepatu yang dijual di sini memang ada yang dari distributor dan buatan sendiri dengan merk Sin Lie Sheng. Kata bapak sih dia bisa minta model sendiri yang dia mau.
Biasanya  bapak sekali pesan sepatu buatan tangan ini dua buah, iyalah namanya juga model spesial. Gw pernah beberapa kali nemenin bapak ambil sepatu.

Bapak juga pernah beliin sepatu pantovel di Sin Lie Seng, mungkin dia lihat gw gak punya sepatu cewe kemana mana pakai kets.
Suatu sore dia telfon ke rumah mastiin nomer sepatu yg gw pakai, kayaknya bapak lagi di toko langganannya ini.

Waduh pasti mau beliin sepatu, deg deg-an juga nungguin bapak pulang takut modelnya gak cocok. Tapi ternyata bapak kenal banget selera gw.

Dia beli pantovel merk Trisset di toko langganannya ini, heelsnya 4 centi kurleb warnanya coklat dengan ujung agak kotak, cucok.

Sejak itu, gw mulai sikat sepatu seperti yang selama ini bapak lakukan pakai semir sepatu merk Kiwi dengan dua sikat.

Sikat pertama untuk mengoles sepatu dengan semir kemudian di jemur sebentar, habis itu di sikat sampai mengkilat dengan sikat kedua, sentuhan terakhir dengan lap sepatu.

Ribet tapi hasilnya sepadan sepatu kinclong berhari-hari. Kebiasaan ini tetap gw lakukan untuk merawat sepatu kulit, ah jadi kangen banget sama bapak...kapan kapan pingin mampir lagi dan beli sepatu di sana

Selasa, 24 Desember 2019

Petualangan Seru Nayla di World of Imagination

Hi Mom...

Libur panjang sudah tiba yaaaay, siap siap keluar biaya ekstra untuk liburan. Harus putar otak juga biar selama liburan Nayla gak hanya makan, tidur sampai siang dan main hape terus.

Kebetulan sehari menjelang hari ibu tepatnya tanggal 21 Desember saya sama Nayla dapat medali, bukan dari lomba lari tapi hasil bermain bersama keluarga kecil tersayang di acara Nivea bertema World of Imagination yang berlokasi di Allianz Ecopark Ancol.
Sebuah taman bermain interaktif yang menggabungkan imajinasi dan seni digital menjadi nyata. Semua bentuk permainannya lebih asik kalau dilakukan berpasangan, misalnya antara anak dengan salah satu orang tuanya. 

Karena saya datang bertiga bersama suami dan Nayla, suami saya mempersilahkan di beberapa permainan saya dan Nayla yang bermain, karena dia tahu saya pasti gak mau jagain tas dan hampers hi...hi....

World of Imagination
Permainannya simple, sebagai awalan kita diajak untuk mengunjungi museum Fairy Tales Legend and Myths. Walaupun namanya museum tapi karena ini dunia peri yang penuh imajinasi semuanya ditampilkan dalam bentuk cerita digital.

Cerita tentang sejarah dan legenda ibu semesta dan World of Imagination yang sedang dilanda kekeringan. Biar dunia imajinasi ini ceria kembali kita diminta untuk mengumpulkan 4 buah stiker medali dari 4 dunia agar selamat dari bencana kekeringan.

Yuuuk mulai bermain dan menjelajah, yang terdekat dengan museum adalah Dunia Hutan. layar digital yang menampilkan dunia hutan yang meriah dengan warna yang temaram seakan akan kita sedang berada di hutan.
Sayangnya Nayla sudah 13 tahun jadi gak terlalu tertarik untuk berhayal hayal lewat layar digital seolah olah sedang di hutan, dia maunya di hutan beneran. Permainan ini sepertinya cocok untuk anak anak yang umurnya di bawah dia.
Untungnya ada hal menarik di Dunia hutan imajinasi, langit langit dipenuhi dengan sulur akar hijau yang penuh misteri dan menyimpan mantra untuk memanggil makhluk hutan. Kalau sudah ketemu bisa menari bersama dan dapat deh satu stiker.
Kelar dapat stiker dari dunia hutan kita jalan keluar menuju lapangan rumput yang luas. Sebelumnya saya dan Nayla mengoleskan pelembab dari Nivea ke muka dan tangan biar gak gosong banget panas panasan, apalagi kita dapat banyak dari hampers dan tas goodybag 
Di luar kita memilih untuk mendapatkan stiker di Dunia Angin. Nayla diberi pelindung tangan, kaki dan helm, biar aman kalau mau turun lewat seluncuran setelah mendapatkan stiker yang tergantung di atas pohon. 

Tapi sebelum naik menuju pohon yang ada di atas panggung tangan kita berdua ceritanya diikat satu sama lain dengan gelang kertas, biar kompak kerjasamanya dan jadi makin dekat. 
Beneran loh Nayla megang tangan saya erat erat biar kita gak gagal dan merobek gelang kertasnya. Begitu kita mau turun lewat seluncuran popnya Nayla sudah siap dengan kamera video, jadilah punya kenang kenangan main seluncuran berdua Nayla.
Sambil menunggu antrian permainan lainnya kita jajan dulu dong ya. Ada ice cream, octopus bakar dan nasi goreng kambing nyaaaaaaam. 

Setelah perut terganjal sedikit, kita main lagi kali ini kita pilih Dunia Pasir. Dunia Air biar dimainkan terakhir, jadi kalau harus berbasah basah gak masalah.

Nah di Dunia Pasir ini setelah kita menghalau monster pasir yang ada di labirin dengan mantra Simplicity, kita harus mencari stiker yang ada dalam tabung yang diletakkan dalam pasir, seruuuu main pasir di tengah hari bolong.
Terakhir barulah kita main di Dunia Air. sebelum bermain kita menitipkan sepatu dan mendapatkan jas hujan serta senapan air.

Untuk mendapatkan stiker kita harus melewati halangan rintangan yang aduhai bikin ambo nyerah. Biar nayla aja yang manjat dan turun lewat tambang  sampai dua kali sebelum akhirnya meluncur untuk mendapatkan bendera, emaknya jadi tim penyemangat saja, maaf  ya Nay mom skip deh buat yang beginian.
Saya lihat Kebiasaan Nayla sejak dia masih bayi, gak gampang nyerah buat mencoba menegakkan kepalanya ketika dia belajar tengkurep atau mencoba turun dari tempat tidur yang tinggi tanpa jatuh.

Kali ini dia gak menyerah untuk naik lewat tambang yang bikin tangan dia sakit, padahal masih ada dua kali lagi tangga tambang ke atas yang harus dia lalui. Saya sudah membuka pintu samping biar dia keluar dan skip permainan itu untuk langsung ambil bendera seperti yang saya lakukan.

Tapi ternyata dia menolak, "kemarin outbond OSIS lebih seram mom, bawahnya air lumpur, ini lantai balon tiup," oooo oke nak, lanjutkan sampai selesai jangan tiru mamamu yang cemen ini.

Akhirnya dia dapat bendera juga yaaaaay, mom bangga banget euy. Sebagai penutup kita masuk ke dalam perahu untuk perang air dengan bajak laut, basah dong pastinya. Imbalannya pas mau keluar kita dapat stiker yang ke empat.

Kalau semua stiker sudah kumplit kita kembali ke museum untuk mendapat medali. Karena kita dapat buku untuk menempel stikernya dua buah, medalinya dua juga yipiiiiii.
Pas ke parkiran mobil, saya sempat nanya ke Nayla "Senang gak nak", dia bilang "Senang dong". Ah bahagianya walaupun tangannya pegel banget katanya.

Sebagai hadiah kita ajak makan siang (lagi) dan main di Ancol Beach City yang pasirnya putih. Kita biarin dia puas puasin main pasir dan berbasah basah dengan air laut, sementara mama papanya gantian naik sepeda yang kita bawa dari rumah (niat banget kan).
Kegembiraan hari itu kita tutup dengan makan malam di sate padang di pinggir jalan yang enaaaaak banget, sate padang Mak Ajat Gunung Sahari nyaaaaaaam.
Habis ini mau kemana lagi kita mom, liburan sampai tahun depan nih. Liburan hanya di rumah juga oke, yang penting jangan lupa bahagia ya.

Jumat, 06 Desember 2019

Ketagihan Naik Mola Mola Jet Spinner

Hi Mom...
Anniversary tahun ini saya dikasih kado ditemenin ke Ancol sama suami, untuk me time naik roller coaster bareng teman teman blogger. Tapi sebetulnya sih karena nomer polisi kendaraan dengan tanggalnya matching sama sama genap hi...hi...

Apapun alasannya  setelah beberapa purnama terlewati saya berani lagi naik roller coaster eeeitt bukan yang ekstrem ya, roller coaster ini tingginya hanya 8,5 meter. 
Gak tinggi bangetkan makanya saya penasaran kepingin naik bersama puluhan blogger dan awak media yang mendapat kesempatan mencoba Mola Mola Jet Spinner, wahana permainan baru dari Ocean Dream Samudra  Ancol  4 Desember lalu.  
Wahana yang  dipersiapkan untuk menyambut liburan akhir tahun ini  bisa berputar 360 derajat. Tapi sebaiknya jangan duduk sendiri di kereta (satu kereta berisi 4 bangku punggung punggungan). 

Karena kereta akan berputar terus menerus dengan cepat maklum bebannyakan kurang. Ini sempat kejadian ketika kami ingin mencoba naik untuk yang kedua kalinya. 

Saya duduk dengan Laras keponakan saya sedangkan Doddy suami saya duduk sendiri di bangku kereta yang depan, sepertinya memang tidak ada lagi penumpang yang naik.
Dari awal perjalanan, saya lihat kereta suami berputar 360 derajat, kita sih ketawa ketiwi melihatnya. Tapi begitu naik dan menukik keretanya  berputar lebih kencang, kereta kita juga berputar tapi tidak sekencang itu karena ada 4 orang yang duduk depan belakang.

Bahkan hingga kita sudah berhenti kereta masih berputar, akibatnya suami saya pusing deh wkwkwkwk. Untungnya dengan istirahat sebentar bahkan  sempat tertidur sambil duduk karena nungguin saya dan keponakan antri nonton film 5D, suami saya sudah bugar lagi. 

Kejadian begini gak bikin kapok dong, karena kami berencana mengajak Nayla yang terpaksa tidak ikut karena sedang ujian penilaian akhir semester, untuk liburan akhir tahun di Ocean Dream Samudra naik Mola Mola Jet Spinner tentunya.
Asal mula nama Mola Mola 
Menurut Bapak Rika Sudranto (Vice President Sea World Ancol - Ocean Dream Samudra), nama yang unik ini terinspirasi dari nama ikan yang bisa dilihat di Indonesia bagian timur yaitu mola mola yang berkerabat dengan ikan buntal makanya bentuknya mirip mirip ya.
Rika Sudranto (Vice President Sea World Ancol - Ocean Dream Samudra)
Ikan ini  tangguh banget ternyata karena biasa mencari makan hingga kedalaman 198 meter. Mola mola atau Sunfish ini  disukai parasit, makanya mereka suka berjemur pagi pagi di permukaan laut untuk menarik perharian burung laut untuk memakan dan membersihkan parasit yang nempel di badannya.

Susah susah gampang untuk melihat ikan ini, karena kita harus bangun jam 3 dini hari untuk naik perahu atau biasa disebut jukung ke tengah laut untuk melihat ikan ini muncul ke permukaan. Prosesnya persis sama ketika saya dan suami ingin melihat lumba lumba di pantai Lovina Bali.
Mola Mola Jet Spinner
Kerenkan ikon wahana yang memiliki kapasitas 20 orang terdiri dari 5 rangkaian kereta berisi masing masing 4 tempat duduk. Butuh waktu 1 tahun untuk memesan alat permainan ini dari Itali.

Sedangkan untuk pembangunan dan pemasangan alat permainan yang mempunyai kecepatan 5-9 meter per detik di Ocean Samudra dilakukan selama 3 bulan yaaaay kecepatan seperti itu lumayan menantang buat saya. 

Mola Mola  dirancang untuk anak anak tapi orang dewasa tetap bisa menaiki roller coaster ini. Yang penting tinggi badan tidak kurang dari 95 cm dengan tinggi maksimal 190 cm, khusus untuk anak anak tetap harus didampingi orang dewasa ya.
Untuk warnanya Mola Mola menggunakan warna kuning dan ungu dengan nuansa negeri 1001 malam, karena ternyata nih sebagai wahana biota laut Ocean Dream Samudra Ancol mempunyai tema besar bergaya negara Timur Tengah.
Harga Tiket Ocean Dream Samudra Ancol
Sekarang kita intip yuk untuk harga tiketnya, untuk weekday 95 ribu/per orang (jam 9.00-17.00 wib) sedangkan weekend 115/per orang (jam 9.00-17.00 wib). 

Mau main setiap hari sampai bosan selama setahun dengan harga 195 ribu/per orang? bikin Annual Pass saja, seperti yang saya lakukan waktu itu. 
Penasaran ada apa saja bisa lihat di Instagramnya @oceandreamsamudra. Atau kalau mau lebih kumplit klik www.ancol.com tinggal cari bagian info tiket masuk wahana pilihan.

Karena mikirin Nayla anak saya yang lagi ujian dan makan siang sendirian di rumah, saya sama keponakan hanya sempat ngintip pertunjukan pinguin, naik balon udara dan menonton film 5D. 
Kereeeeen dengan kacamata khusus semua isi di film seperti ada di depan mata bahkan lewat di atas kepala. Selain itu ada hembusan angin di bawah kaki dan semburan halus air dari belakang bangku di depan kita.

Sebetulnya saya pingin banget lihat pertunjukkan lumba lumba mamalia favorit saya (lihat ini dong Cincin pernikahan bentuk lumba lumba). Sayang pertunjukkan kedua jam 16.00, kasihan Nayla nungguin kita pulang.

O iyaaaa tadi tuh habis naik Mola Mola saya dan Laras Keponakan saya sempat di wawancarai TV. Saya hanya di wawancara satu tv, sedang si keponakan centil sama 3 TV uwooow warbiasaaah.

Silahkan lihat ya, tapi dilarang muntah wkwkwkwkwkw. Video ada yang dari youtube dan saya rekam dari depan TV.
Ah Gak sabar nih pingin balik ke Ancol lagi, karena mereka mau meluncurkan wahana baru seperti Kereta Misteri di Dunia Fantasi. 

Juga ada revitalisasi  kawasan rekreasi di tepi pantai Symphony of The Sea, hohooo mudah mudahan saya diajak lagi buat jadi salah satu orang pertama yang nyobain yaaaaay.

#oceandreamsamudra
#molamola
#liburanakhirtahun

Mengenang Alm. Ging Ginanjar

Hi Mom.... Ada beberapa orang dalam kehidupan gw yang bisa gw tulis di sosmed atau blog kalau dia punya kesan yang cukup bikin hidup gw ...