Jumat, 04 Mei 2018

Pernikahan: Cinta dan Komunikasi

Menikah dan punya anak rasanya jadi impian semua orang, termasuk saya tentunya. Tapi ketika ada perceraian disertai huru hara disekeliling saya, itu kadang yang bikin ciut hati.

Makanya dulu jadi waspada ketika sang pacar jadi cemburuan gak jelas, bahkan cenderung pemarah, wah mending ditinggalin deh, masa saya dimarahin sama anak orang, lagipula saya yang temperamen begini ketemu sama yang temperamen juga, ngebul dong rumah tiap hari.

Ketika akhirnya  berani menikah, karena bekas pacar yang sekarang jadi suami saya ini memang sabaaar banget, kami yang kebetulan sama-sama dari Sumatera, satu ke barat satunya lagi ke selatan ini,  bertemu ketika bekerja di kantor media yang sama.

Awalnya kami memang jadi sahabat dan teman curhat selama 2,5 tahun sampai akhirnya memutuskan pacaran 2,5 tahun juga, setelah putus dari pacar masing-masing.

Berantem pas pacaran pasti adalah, tapi karena rasa nyaman (itu yang paling utama buat saya), kami berdua pendengar curhatan yang baik, sama-sama suka nonton, dia bisa meredakan marah dan kebiasaan jelek saya yaitu ngambek, akhirnya Bismillah saya beranikan diri untuk menikah.

Setelah menikah, saya mulai belajar untuk minta maaf kalau salah atau minta maaf duluan, dan itu belajarnya beraaaaaaat sangat, harus nurunin ego dan gengsi, sampai hari inipun di pernikahan jelang 12 tahun, Desember 2018 nanti, saya masih terus belajar.
Komunikasi setiap hariπŸ’™πŸ’šπŸ’›πŸ’œπŸ’•
Buat kita bertiga (kan sudah ada NaylaπŸ’™), Insya Allah komunikasi kita lancar, walaupun ada berantemnya, sedikit pakai teriak, tapi tiap hari kita pasti ngobrol, atau kalau sempat suami pasti telfon ke rumah untuk ngobrol sama saya dan Nayla.

Soal telfon menelfon ini pernah jadi masalah buat keluarga suami, yang kebetulan buat tante-tante suami yang asli urang awak ini, kebiasaan kami saling telfon ketika berjauhan dianggap sebagai kelakuan istri yang mengekang suami wkwkwkkwkkwkwk karena mereka tidak pernah diperlakukan seperti itu sama suaminya.

Sikap saya ketika dikasih julukan seperti itu, adalah dengan bilang di depan mereka, kami terbiasa bercerita apa saja, tidak ada yang ditutupi, dan lebih banyak suami yang telfon ke rumah, yang paling penting, kalimat nyinyir saya yang sadis saya tutup dengan bilang, pernikahan yang benar dengan berkomunikasi karena cinta bukan cemburu.
hewan kesayangan dan bentuk cincin pernikahan kami
Suami peduli dengan urusan rumah
Nah soal urusan cuci piring, bantuin buang sampah dan soal remeh temeh lain di rumah tangga, kayaknya kok saya senang ya kalau suami ikut turun tangan, karena jadi salah satu bonding kita. 

Hal seperti ini pernah bikin mami saya takjub, ketika melihat suami saya bantuin cuci piring, karena dia tidak pernah melihat anak lelakinya melakukan itu.
Mungkin karena suami saya ketika kuliah sempat kos di Bandung, sehingga jadi mandiri.  Bahkan dia senang-senang saja ke pasar sendirian ketika saya atau Nayla tidak bisa ikut, makanya tukang sayur di pasar lebih kenal dengan dia ketimbang saya.

Tapi untuk urusan kerapihan rumah, beliau tercinta ini tidak terlalu peduli, terasa sekali kalau saya sakit, rumah seperti kapal pecah (kebetulan sejak di apartemen kami tidak memiliki asisten rumah tangga).

Dia dan Nayla sih merapikan rumah, tapi tidak sesuai standart saya pastinya dong 😁. Dengan santai suami saya bilang, "sudah istirahat saja, biar sembuh, lagian gak ada tamu jugakan", ya sudah saya mengalah istirahat di kamar, yang penting piring kotor sudah beres dicuci.

Itu untuk urusan rumah, untuk urusan berdebat sama anak yang ujung-ujungnya masuk ke kamar masing-masing, pesan suami selalu sama, "ingat saja yang lucu-lucunya dari Nayla, nanti kalo dia dewasa dan gak satu rumah pasti kangen, trus jangan marah-marah nanti darah tingginya kumat,"  katanya.

Hiiiks akyu memang darah tinggi, kalau dinasehati seperti ini langsung meleleh, nangis bombay, terus ke kamar Nayla deh buat peluk-peluk. 

Aaah kok jadi curhat soal rahasia rumah ya hi...hi....ini terpicu sama post triger #KEBloggingCollab dari kelompok Mira Lesamana tulisan mak Anis Khoir "Menyikapi perbedaan dalam pernikahan".

Mak Ani bilang, ketika dia dan suaminya memiliki pandangan politik yang berbeda, cari solusi yang benar, bukan berarti harus memutuskan hubungan dan unfollow akun sosial media suaminya. 

Setuju mak, pernikahan tidak sama dengan pendukung fanatik yang baperan, kalau tidak sejalan, langsung unfollow dan bubar jalan.

Kebetulan nih, kalau untuk urusan politik, nonton, bowling, saya dan suami sejalan seirama. Tapi kalaupun berbeda sebisa mungkin saya dan suami saling menghargai satu sama lain, rasanya sayang dan sia-sia harus bertengkar berlama-lama untuk masalah yang tidak penting.

Kalau lagi lelah dan bete, biasanya saya membayangkan hal-hal yang indah ketika liburan keluarga, atau mengingat ucapan-ucapan rasa senang ketika mereka merasakan masakan yang saya buat, atau ketika Nayla takjub melihat buku, mainan atau bajunya sudah selesai di reparasi ala saya.

Bila hal seperti itu tetap tidak bisa menghilangkan rasa jengkel saya, biasanya sih saya coba untuk tidur atau tidak melakukan apa-apa, sambil mengingat betapa kami bertiga saling cinta dan saling sayang.πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™ 
Blog tanggapan #KEBloggingCollab dari kelompok 15 Yohana Susana untuk  post trigger Anis Khoir kelompok Mira Lesmana.

8 komentar:

  1. Aah...sukaaa...
    Mba Hanny ternyata orang Sumatera yaa....

    Bener yaa...
    kalau udah tau sikapnya gak baik dari awal maah...mending gak usah diterusin.
    Alhamdulillah kalau awalnya baik, pasti ke depannya akan baik juga. In syaa Allah...

    Barakallahu fiikum, mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sumatera jawa mba, mba lendy dr mana?
      Aamiin, semoga semua yg kita kenal pernikahannya baik ya mba

      Hapus
  2. Saya juga lumayan sering kalau debat dengan anak. Yah, begitulah, pemikiran orang tua kadang berbeda dengan anak zaman sekarang ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan makin besar anak, makin beda pemikirannya ya mba, orang tuannya musti belajar terus ya

      Hapus
  3. awal2 nikah masih terbawa ego masing2 sih pasti ada...
    lama2 pasti ketemu solusinya, asal mau saling mengalah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mak, kalau gak ada yang ngalah gak kelar kelar masalah

      Hapus
  4. Belajar memaafkan memang tak mudah, tapi setelah berhasil memaafkan akan terasa lebih indah menjalani hidup.
    Beneran,kak ... ngga ada lagi ganjalan di pikiran dan di hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya benar memaafkan pekerjaan paling susah ya, tapi kalau bisa melaksanakan hati jadi plong

      Hapus

Cinta Terencana Resep Jitu Keluarga Berkualitas

M asih ingat kah ketika kecil dulu kita punya impian untuk sekolah apa atau kerja dimana? saya masih ingat sedikit, jadi dokter atau pram...