Di Tangan Nurman Farieka Ramdhany, Ceker Ayam Jadi Sepatu Kulit Berkelas

Hi Mom...

Kalau ada yang nawarin masakan dari ceker ayam, pasti saya nunjuk tangan duluan sambil nyodorin piring tentunya😁. Ya gimana dong mami  yang mengenalkan makanan ini sejak saya masih kecil makanya jadi salah satu makanan favorit.

Kebiasaan ini juga menular ke Nayla anak saya satu-satunya. Segala jenis masakan yang ada cekernya dia suka, sayangnya kali ini saya gak akan ngomongin resep masakan atau makanan dari bahan ceker ayam.

Tapi akan membahas sepatu kulit yang bahan dasarnya terbuat kulit ceker ayam... yup Ceker ayam ayam yang selama ini hanya dinikmati oleh sebagian penikmat ceker ternyata punya nilai jual yang lain.

"Nurman Farieka. Foto: IG Nurman Farieka.jpeg"
Ide nyeleneh Nurman Farieka

Siapa sangka saat sedang menyantap semangkuk mie ayam lengkap dengan ceker ayam yang gemuk dan empuk, seorang pemuda bernama Nurman Farieka Ramdhany mendapat ide untuk membuat sepatu dari kulit ceker ayam yang polanya mirip dengan kulit ular.

Pada dasarnya karena punya darah untuk menjadi seorang pebisnis, segala hal yang tidak terpikirkan orang lain dibenaknya bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.

Sebetulnya ide Nurman ini meneruskan gagasan yang dirintis sang ayah, Fatah Faturahman, sekitar 20 tahun silam. Saat itu ayah Nurman mencoba melakukan penyamakan kulit ceker ayam, bahkan ayahnya menuliskannya dalam bentuk artikel semasa kuliah di Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta.

Artikelnya tentang pemanfaatan limbah kulit ceker ayam yang memiliki tekstur unik dan  dapat mengganti penggunaan kulit satwa liar untuk berbagai jenis produk yang bernilai fashion atau mode.

Dengan memakai bahan dari kulit ceker ayam yang selalu dibuang orang, menurut lelaki dari Bandung ini tidak akan mengganggu ekosistem kehidupan binatang. Apalagi kalau binatang tersebut sudah langka dan dilindungi. 

Seperti yang kita tahu nih jutaan atau bahkan miliaran hewan dikorbankan setiap tahunnya untuk masuk ke dalam industri fashion. Bulu, kulit, dan berbagai bagian tubuhnya diambil secara paksa untuk disulap menjadi mantel, tas, topi, sepatu, atau bahkan sabuk. 

Hewan-hewan tentu menderita karena aktivitas industri fashion ini. Mereka diburu secara liar, dikembangbiakkan di dalam kandang yang sempit, diambil hak hidupnya secara paksa, dan bahkan dibunuh dengan cara yang kejam. 

Masa iya kita mau ikutan berkontribusi terhadap kekejaman ini, ya kan?. Makanya Nurman merasa jalur yang dia pilih sudah tepat, kepingin punya usaha sendiri yang bisa dia kerjakan sesuai passionnya, juga  punya banyak waktu lebih banyak untuk keluarganya. 

Kenapa sepatu jadi pilihannya? dia menyukai tantangan itulah sebabnya dia memilih bisnis sepatu karena tidak mudah menembus apa yang diinginkan oleh pasar penikmat sepatu. 

Riset... riset ...

Sebelum merintis bisnis sepatu berbahan dasar ceker ayam, pada 2012 Nurman Farieka melakukan riset berbagai material ceker ayam. Selama satu tahun Nurman fokus pada cara pewarnaan dan perawatan ceker ayam agar menghasilkan warna yang cantik dan unik dengan teknologi penyamakan yang dia pelajari dari ayahnya.

"Proses penyamakan ceker ayam. Foto: IG Nurman Farieka.jpeg"
Akhirnya lelaki berkacamata ini berkesimpulan kulit ceker ayam berpotensi digunakan untuk material kulit sepatu. Pada tahun 2015 ia fokus untuk mengembangkan sepatu dan produk tersebut melalui pengembangan inovasi kekinian.

Sepatu dengan kulit ceker ayam ternyata tidak langsung dia buat loh. Karena saat itu Nurman merasa belum ada modal yang cukup dan belum punya nama brand sepatu yang dikenal orang.

Pada awalnya Nurman memproduksi sepatu kulit kasual hingga akhirnya mulai dilirik dan dikenal oleh para pelanggan. Barulah kemudian mulai mengembangkan inovasi sepatu kulit dengan memakai kulit ceker ayam sebagai bahan utama.

Apalagi di daerahnya kulit ceker ayam mudah dia dapatkan, waktu itu Nurman tinggal di Gang Subur, Regol, Kota Bandung. Setiap pagi pukul 5 subuh, pedagang sayur datang ke rumahnya memasok ceker ayam untuk diolah menjadi sepatu. 

Setiap 10 hari ia bisa menampung 20 kilogram ceker ayam, Pastinya dia sudah punya cara untuk menyimpan ceker ayam ini sebelum digunakan. Kulit ceker ayam inilah yang kemudian diambil dan dijadikan bahan luar sepatu bikinannya.

Hirka ke mancanegara

Selain mudah diingat nama Hirka yang dipilih Nurman untuk nama brand sepatunya berasal dari bahasa Turki yang artinya dicintai. Harapannya sudah pasti produknya bakal dicintai konsumen pecinta sepatu kulit.

"Sepatu kulit Hirka. Foto: Hirka Official.jpeg"

Di dunia industri sepatu kreativitas Nurman Farieka Ramdhany membawa sebuah inovasi besar. Pria berperawakan kurus ini, mampu mengubah kulit ceker ayam menjadi kulit bahan baku sepatu yang berkwalitas. 

Tidak kalah keren malah bisa menggantikan eksotisme kulit ular atau buaya. Bahkan dia berani mengklaim kalau sepatu berbahan kulit ceker ayam ini cuma satu-satunya di dunia loh. 

"Nurman Farieka. Foto: IG Nurman Farieka.jpeg"
Nurman ini mengembangkan dua jenis sepatu di perusahaannya. Keduanya yaitu Jokka dan Tafiaro yang berarti jalan-jalan, dalam bahasa Makassar dan Papua. 

Lelaki berambut ikal ini mulai pertama kali dan memamerkan sepatu karyanya di INACRAFT pada 2017, yang terus berlanjut hingga saat ini.

"Nurman Farieka di INACRAFT. Foto: IG Nurman Farieka.jpeg"
Pangsa pasar produk Hirka saat ini tidak cuma berkutat di pasar dalam negeri saja seperti   Aceh, Kalimantan, Jakarta, Jawa, dan Sumatra, tapi juga sudah menyasar mancanegara. Singapura, Korea hingga Kairo dan Mesir adalah sebagian negara yang ikut merasakan produknya.

Sosial media menjadi salah satu kunci Keberhasilan dalam upaya pemasaran secara online. Apalagi saat pandemi kemarin.

Karena dianggap kreatif, secara tak langsung ikut memberdayakan pengrajin sepatu memanfaatkan peluang dan pengalihan penggunaan kulit reptil untuk memproduksi sepatu, Nurman mendapat penghargaan.

Ayah dua orang anak ini berhasil mendapatkan penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2019 lalu, di bidang kewirausahaan. Berkat idenya yang inovatif terjadi kenaikan perekonomian pengepul ceker ayam di pasar dan pengurangan limbah kaki ayam.

"Nurman Farieka Menerima SATU Award. Foto: IG Nurman Farieka.jpeg"
Dari yang tadinya hanya memproduksi saat ada pesanan. Kini ia berhasil meningkatkan produksi dan penjualannya, dari awalnya 100 pasang menjadi lebih dari 200 pasang sepatu. 

Tidak bisa dipungkiri penghargaan tersebut membuat usahanya semakin dikenal. Semakin memudahkan dirinya membangun story tentang Hirka lebih dalam. Pesan di balik setiap produk Hirka bisa sampai dan menyentuh pasar. 

Seperti yang ada di website Hirka official, luxury, exclusive, exotic menjadi hal penting di produk Hirka. Apalagi pasar yang dituju adalah yang punya penghasilan tetap, orang perkantoran, pekerja pemerintahan yang memiliki karakter menyukai kemewahan dan eksklusif.

Tidak hanya Nurman yang menikmati hasil jerih payahnya, masyarakat sekitarnya juga merasakan ada peningkatan ekonomi. Semoga usahanya lancar dan sukses serta bisa menginspirasi dan memberi semangat banyak orang demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Kedengarannya klise ya, tapi memiliki hidup yang lebih baik menjadi impian dan keinginan semua orang.

"Nurman Farieka & keluarga. Foto: IG Nurman Farieka.jpeg"

Komentar