Jumat, 29 Desember 2017

Resolusi 2018 Impian Saya, Kepingin Umroh Aamiin

Seperti tahun-tahun sebelumnya, keinginan saya tahun 2018 nanti masih sama, bisa berangkat umroh bertiga dengan suami dan anak saya Nayla.

Mungkin sudah puluhan orang termasuk ke Mami ketika dia Naik haji dan umroh bersama keluarga kakak saya, yang dititipin pesan untuk manggil dalam doa mereka agar kami diberi keleluasaan rizqy untuk pergi umroh.
Mami saya ketika naik haji
Saya tetap percaya keinginan ini bakal terwujud, walaupun entah kapan, tidak ada yang tidak mungkin untuk Allah. Dia tahu kapan saat yang tepat kami akan berangkat, mudah mudahan ketika kami bertiga masih sehat, Aamiin.

Target lainnya, kepingin banget saya dan NAyla, Qatam Al-Quran. Ampun deh masa bertahun tahun Al-Qur'an gak kelar kelar, padahal kalau baca novel waktunya disempat sempatkan, kalau perlu dibaca sampai habis saat itu juga.

Hidup lebih sehat juga jadi resolusi tahun 2018. Semoga saya jadi lebih rajin Yoga, Nayla rajin balet dan berenang, dan suami saya juga tetap setia tidak makan malam, jadi timbangannya lebih turun lagi.

Selain makan makanan sehat,  minum vitamin juga perlu banget. Beberapa bulan lalu saya sempat sakit gejala Thypus, seminggu saya rawat jalan di rumah.

Sama dokter saya diberi obat, salah satu Theragran-M, katanya vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Eh ternyata bener lo, saya cepat merasa bugar, karena kan selama dirawat saya lebih banyak tiduran.

Karena kandungan vitaminnya banyak sekali, antara lain Magnesium, Zinc, vitamin ABCDE dll. Pantas saja proses penyembuhan dan mengembalikan daya tahan tubuh bisa cepat ya.

Apalagi sebagai ibu rumah tangga, kalau sakit jangan lama lama deh. Mana betah saya lihat rumah berantakan plus lihat piring kotor menumpuk😄 sejak itu  di rumah selalu stok Theragran-M 
Cukup hanya ini resolusinya?, enggak dong. Kepingin lebih rajin lagi nulis di dua blog (aduh gaya-gayaan punya dua blog hi...hi...) dan mudah-mudahan semuanya bisa jadi blog berbayar semua, Aamiin.

Laptop saya bisa pulih lagi fasilitasnya juga jadi resolusi saya tahun depan. Loh kok tidak beli yang baru?, enggaklah laptop munggil ini masih oke tinggal di upgrade, dan uangnya bisa buat nabung pergi umroh (yaaaaay).

Melihat anak saya Nayla bisa naik sepeda roda dua juga jadi impian saya. Gemes deh lihat dia selalu takut jatuh kalau lagi diajarin naik sepeda😉 

Saya bilang, tidak bisa naik motor tidak apa-apa, yang penting bisa naik sepeda, lucu bangetkan kalau bisa keliling naik sepeda di taman bunga hi...hi... ini motivasi apa sih, semoga lebih semangat ya nak.
Wah kalau ditulis di blog, list yang saya buat sih bisa panjang kali lebar  ya, soalnya banyak sekali yang mau dicapai di tahun 2018.  Tapi minimal dari beberapa daftar keinginan saya ini dapat terwujud saya sudah bahagia, daftar lainnya  pelan-pelan Insya Allah terwujud.

Semoga kami semua diberi kesehatan sehingga bisa mewujudkan semua yang ingin dicapai di tahun 2018.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M   

Rabu, 27 Desember 2017

Sedia Tempra Sebelum Nayla Demam

Pernah panik gak mom kalau anaknya demam?, loh kok demam saja panik, itu kan penyakit biasa  yang gampang obatnya.

Dulu saya juga beranggapan begitu tapi ternyata kalau Nayla anak saya sakit demam disertai panas tinggi  akibatnya bisa fatal kalau saya telat menangani panasnya.  

Awalnya ketika Nayla anak saya ini berumur 2 tahun, badannya tiba-tiba demam dan anget di sekitar kepala dan leher.

Karena saya fikir hanya gejala flu dan tidak mau gampang-gampang kasih minum obat, saya tinggal dia di kamar untuk membuat teh manis hangat.

Begitu saya kembali ke kamar, kok televisinya mati ya, spontan saya tanya, "Nay kok tvnya dimatiin", senyap tidak  ada jawaban, reflek saya langsung melihat ke kasur.

Nayla terbaring lemah dengan tatapan mata kosong, saya langsung berteriak manggil nama dia tapi tidak bereaksi, dan ketika saya pegang dahinya panas sekali.

Sambil menangis saya peluk dan gendong Nayla, saya juga berusaha tetap ajak ngomong dia dan membujuk untuk minum teh hangat yang saya buat.

Saya ingat obat penurun panas sepertinya tidak ada di kulkas, dan untuk ambil lap untuk kompres, saya tidak tega untuk meninggalkan dia sendiri, karena kebetulan suami saya sudah berangkat kerja.

Untunglah tidak lama mba Mis yang bantu bantu saya beresin rumah akhirnya datang, dia bantuin saya mengambilkan lap untuk kompres, begitu dikompres dan panasnya sedikit turun, Nayla menangis dengan kencang.

Langsung saya beri minum teh manis hangat, saya minta mba Mis untuk beli obat penurun panas yang selama ini saya pakai, Tempra.

Kebetulan Nayla cocok dengan obat ini. Karena Tempra aman di lambung, tidak perlu dikocok (larut 100%), dosisnya juga tepat sehingga tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis. Tempra Syrup

Mau nangis rasanya kalau ingat kejadian ini, apalagi anak saya umur 2 tahun (waktu itu) sempat matiin tv di kamar, mungkin pusing banget kepalanya ya
Kejadian ini bukan hanya sekali, berulang kembali lama setelah itu. Ketika saya lagi di kamar mandi, mba Mis teriak, "mba Hanny, Nayla tidur di lantai tapi matanya kosong," Ya Allan jangan lagi.

Saya langsung keluar kamar mandi, dan berdua kami menggendong Nayla ketempat tidur, badannya panas sekali. Dari tadi pagi memang sudah mulai hangat, cuma saya pikir mungkin karena dia baru bangun tidur dan dia juga masih mau makan.

Beruntungnya kali ini Tempra masih ada di kulkas. Langsung saya minumkan, walaupun susah payah dia bisa menelan obatnya dan minum air putih.
Setelah dua kejadian ini, saya jadi teringat, Nayla ketika baru bisa jalan, pernah dirawat karena panas tinggi dan disertai kejang-kejang, waktu itu itu bibirnya membiru, dan pupil matanya ke atas.

Langsung kami larikan ke UGD terdekat, waktu itu obat penurun panas dimasukkan lewat (Maaf) duburnya, karena mustahil saat itu diminumkan obat penurut panas cair lewat mulutnya.

Menurut Dokter panas badan Nayla hanya 39 Celcius, anak saya tidak kuat demam tinggi. Pada kasus lain bahkan ada anak dengan suhu badan 40 Celcius, tidak kejang.

Akhirnya sampai sekarang untuk jaga-jaga saya selalu sediakan Tempra di kulkas (selalu saya ganti dengan yang baru bila kadaluarsanya sudah lewat), obat kompres dan obat penurun panas yang dimasukkan lewat bawah serta thermometer.

Saya gak mau kecolongan lagi, tapi akhirnya bikin saya jadi bereaksi berlebihan kalau melihat Nayla demam, runtuh hati saya kalau mengingat dia terdiam dengan tatapan mata kosong.

Saya sampai bilang ke suami, Nayla nantinya boleh sekolah,  dan kerja dimana saja asal ada orang yang mendampingi, takutnya ada kejadian seperti ini lagi dan dia sendirian saat itu. Gak berani saya membayangkannya.

Untungnya suami saya menguatkan, kan tidak selamanya kita bisa mendampingi. Siapa tahu setelah besar daya tahan Nayla lebih kuat. Yang penting Nayla jaga kesehatan, kalau demam disertai panas langsung kompres, dan bila tidak mempan baru minum obat penurun panas. 

Doa kami berdua selalu menyertai mu nak, setiap orang diberi penyakit dan kekebalan yang berbeda-beda, Nikmati saja penyakit yang diberikan dari Allah ya nak, yang penting jangan lupa bawa obat untuk pencegahan dan biar tidak panik. 

Selalu ada cinta di hati Bunda untukmu Nayla.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

Sabtu, 23 Desember 2017

Indonesia Poverty Outlook 2018

Klaster mandiri menjadi program andalan dari dompet dhuafa, yaitu sebuah program yang terintegrasi  di wilayah pedesaan.

Menurut Imam Rulyawan, Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, saat seminar Indonesia poverty Outlook 2018 bertema "Pembangunan Infrastruktur untuk si Miskin", Dompet Dhuafa punya konsep yaitu setiap program pemberdayaan harus bisa menguatkan ekonomi rumah tangga dan memperluas akses ke pasar.
Imam Rulyawan Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi
Melalui program ini Dompet Dhuafa memberdayakan masyarakat melalui program kesehatan, pendidikan, agama, dan ekonomi secara terintegrasi, tujuannya sih agar masyarakat desa sebagai unit-unit produksi bisa mandiri.

Dari seminar ini saya jadi tahu kalau  kota-kota yang menghadapi kemiskinan kota paling berat didominasi kota besar di sumatera, Jawa, Medan, Palembang, Surabaya, Tanggerang dan Bekasi.

Penyebabnya besarnya jumlah penduduk miskin, tingginya kepadatan penduduk miskin dan tingginya biaya hidup minimum. Jadi terlihat kalau pembangunan perkotaan di kota kota tersebut gagal menghasilkan pertumbuhan yang merata.

Karenanya Dompet Dhuafa akan tetap fokus dalam pemberdayaan wilayah desa, terluar, termiskin, terbelakang dengan menargetkan 100 desa di wilayah Indonesia dengan memakai indikator keberhasilan Desa Development (DD) index yang sedang dalam pengembangan.

Apa dan Siapa Dompet Dhuafa 

DD adalah organisasi nirlaba yang didirikan di Indonesia pada bulan Juli 1993, milik masyarakat global yang berusaha untuk pemberdayaan sosial global.

Mereka juga mempunyai filosofi filantropi Islam seperti Zakat, Infaq/sadaqa, wagqah dan dana halal berasal dari donor individu.

Selain mempunyai cabang di seluruh dunia seperti, China (Hongkong), Jepang, Amerika Serikat dan Australia, perwakilan Mesir dan Korea selatan, kini juga memperluas jaringannya di 21 Provinsi di Indonesia.

Semua kegiatan dapat dilakukan berkat dukungan 60.000 donor yang secara ekonomi mapan, dan profesional.

Sementara IDEAS (Indonesia Development and Islamic Studies) sebagai salah satu mitra Dompet Dhuafa yang melakukan penelitian dan kajian kebijakan publik, serta menyalurkan hasil penelitian kepada pembuat kebijakan publik di Indonesia. 

Menurut Yusuf Wibisono, Direktur IDEAS, penurunan kemiskinan pada tahun 2018 hanya akan berjalan konservatif, karena menjelang tahun politik kemiskinan menjadi fokus politik, dan perubahan iklim yang ekstrim jadi tantangan yang berat untuk stabilitas harga pangan.
Dokumentasi IDEAS
Lain lagi yang diungkapkan Marsudi Nur Wahid, Pemimpin Redaksi Jawa Pos pada seminar hari itu, program sejuta rumah yang dicanangkan sejak tahun 2015-2017 belum mencapai sejuta rumah pertahun.
Marsudi Nur wahid berbaju batik
Tetapi walaupun belum tercapai, minimal sudah tersedia rumah bagi sebagian besar masyarakat yang tidak mampu, dan menggerakan sektor ekonomi, yaitu adanya pembangunan perumahan, penjualan makanan dan minuman di sekitar pembangunan.

Semoga penyediaan infrastruktur dasar untuk kelompok yang tidak mampu memiliki peran dalam meningkatkan kualitas modal manusia yang diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan.

Dipenghujung acara kami dipersilahkan mencicipi buah Naga merah salah satu hasil petani buah yang dibantu Dompet Dhuafa, rasanya enak dan manis, biasanya anak saya makannya pakai susu cair putih yang rasanya flat.
Dokumentasi Dompet Dhuafa

Jumat, 22 Desember 2017

I love U Mami

Hubungan saya sama mami Hanna Hassan itu persis kayak orang lagi demam, hangat dan kadang panas dingin.

Katanya sih karena muka kita mirip, jadi kalau dekat berdebat melulu kalau jauh kangen. Apalagi setelah menikah dan tidak tinggal satu rumah. 
Walaupun selalu berdebat dengan mami, tapi cuma saya yang pernah dibuatin baju sama mami dan dia jahit sendiri bajunya.

Dia juga dengan bangga menyimpan uang gaji pertama saya sebagai wartawan serta membuatkan masakan kesukaan ketika saya pulang, sepeti tekwan, sop kaki sapi, cumi cabe hijau, dan tumis genjer yaaaaam. 

Sifat keras mami juga menurun ke saya, mami berani coba sesuatu yang baru, bisa benerin apa saja yg rusak di rumah, kayak pemeran kartun handy many gitchu. 
Sayangnya setelah bapak tiada dan kami semua menikah, mami memilih tinggal sendiri, dia lebih nyaman di rumah kami kecil dahulu.

Untungnya tiga orang anaknya tinggal dalam satu komplek dengan mami. 

Tepat  tanggal 5 desember 2017, mami ulang tahun ke 70, sudah berhaji, anaknya sudah menikah semua, memiliki 14 orang cucu, semoga sehat terus, bahagia dan umur mami penuh berkah.

Setelah jadi ibu, saya baru sadar kalau mami, ibu yang luar biasa. Dia bertaruh nyawa untuk kelahiran 7 orang anaknya.

Mami sendiri yang membiayai kuliah kami dan menikahkan 5 orang anaknya (1 orang sudah menikah ketika Bapak masih ada, dan satu lagi kakak saya meninggal ketika masih bayi).

Mami itu dulu wanita karir, jarang masak tapi sekalinya masak Enaaaaaak banget. Mami keras kepala, apa yang dia mau harus terwujud, dan berani mencoba sesuatu yang baru. 

Kayaknya sih saya kecipratan sedikit sifat ini, kalau bukan karena mami, gak mungkin saya jadi seperti ini, makasih ya mi. 

Dan awal bulan ini saya sempat melihat beliau sedang menjahit prakarya salah satu cucunya, saya lihat betapa ringkih dan lelah mukanya, duuuh bisa gak ya saya seperti dia, melihat Nayla menikah dan melahirkan anak. 
Sambil jahit mami bilang, mau ada kondangan tapi tasnya besar besar semua hi... Hi... Dulu maunya yg besar biar bisa masukin suvenir sama cemilan😀😀

Akhirnya saya berdua Nayla ngasih kado tas pesta ukuran kecil yang harganya gak mahal tapi mami banget.

Reaksinya menyenangkan, berulang ulang dia bilang aaaah...mami besok mau kondangan pakai tas baru.  

kami belum bisa membalas semua pengorbananmu (melahirkan 7 orang anak bow, saya satu saja sok stress tiap hari). 

Semoga kami berdua bisa mencapai umur seperti mami, bisa melihat Nayla kuliah, kerja, menikah dan punya anak, Aamiin. 

I love you mami, sehat terus ya, beri kami waktu untuk menyenangkanmu.
#KARENAIBU #selamathariibu #mothersday

Kamis, 21 Desember 2017

Isi Liburan, Main Kreatif Dengan LEGO

Anak kecil itu daya imaginasinya tinggi, mereka bisa mebuat sesuatu yang tidak terfikirkan sama orang dewasa. 

Seperti Nayla, waktu demam Elsa lagi mewabah dia ikut kesengsem berat, terus bikin deh si Elsa dan Olaf dengan LEGO.
Atau ketika ngajak main mamanya, dia bikin bangunan di atas mobil dan ternyata gw lihat di TV  ada tenda untuk kemah yang didesain di atas mobil. 



Loh ya jadi masuk diakal emaknya bentuk mainan yang dibuat Nayla waktu itu.

Jadi makin kreatif deh ni anak sama mainan LEGO walaupu hanya punya beberapa buah.
Ini beberapa bentuk LEGO yang bikin kita menahan nafas, keren banget, ada yang berbentuk logo burung garuda raksasa, pemain Star Wars, Sekolah dll, di sebuah pameran LEGO di Mal.

Selasa, 19 Desember 2017

Uji Nyali Melayang Di Ayunan

Yup uji nyali,  buat sebagian orang naik ayunan dan melayang seperti yang ada di The Lodge Maribaya pasti gak seberapa menakutkan,  tapi buat gw itu jadi tantangan tersendiri.

Dulu kalau ke Bandung tujuan gw cuma maunya wisata kuliner sama belanja di FO, tapi sudah dari setahun ini kalau kesana minimal harus mengunjungi tempat yang lagi happening salah satunya si Maribaya ini.  

Dusun Bambu berhasil dengan lancar kita kunjungi, karena gw sudah pernah pergi sebelumnya dengan geng kuliah dulu. Minimal sudah tahu jalan. 

Tempat peneropong bintang Boscha masih gatot.alias gagal total,  karena kita  jalan dari hotel sudah kesiangan, kena macet di Lembang dan Boscha kalau sabtu jam 13 sudah tutup. 

Boscha batal otomatis The Lodge Maribaya juga batal. Gak mau punya pengalaman seperti itu, Ahirnya Desember 2017 bertepatan dengan ultah pop, kita bertekat untuk sampai ke Maribaya.
Jumat malam kita sudah sampai di Bandung setelah kena macet hampir 8 jam. Katanya sih gara-gara ada pengecilan ruas jalan karena pembangunan Meikarta, hujan dan di kota Bandungnya sendiri juga macet. 

Untungnya rencanya kita untuk berangkat keluar dari hotel pada sabtu 16 Desember,  pukul 5.40 pagi terlaksana. Udara masih dingin, cuaca cerah dan yang penting belum macet. 

Gw senang banget baru pertamakali setelah bertahun tahun ke Bandung, kita keluar dari hotel pagi pagi untuk menuju tempat rekreasi plus sarapan pagi di jalan. 
Dan jadi rezeki kami yang sudah rela mandi pagi habis subuh, kami bisa sampai di The Lodge Maribaya 7.30 yaaaaaay.
Hebatnya pengunjung yang datang sudah banyak,  mungkin mereka menginap di sekitaran Maribaya. 

Dengan membayar tiket parkir mobil 15 ribu rupiah,  dan tiket masuk perorang 25 ribu,  kami bisa langsung masuk dan memilih wahana spot foto yg kita mau. 

Tarif per wahana spot foto berkisar antara 20-25 rbu rupiah.  Yang semuanya memakai tali pengaman,  kecuali naik ke tempat balon udara. 

Kami pilih berfoto bertiga di rumah pohon,  karena kebetulan sepi belum ada yang naik. 
Selanjutnya naik ayunaaaan yaaay ini yg ditunggu tunggu. Ada dua pilhan ayunan di bagian bawah dan atas,  gw dan Nayla pilih lokasinya di atas karena bawahnya tidak terlalu curam
Kelar dari ayunan Nayla tertari untuk naik gantole,  sementara gw pilih sepeda.  Sedangkan pop memilih untuk menikmati dan menghirup udara segar disana. 
Balon udara jadi pilihan terakhir kita,  pop sempat fotoin kita juga pakai kamera handphone. 
Sayangnya foto foto yang tadi kita bikin,  gak dikasih cuma cuma kita harus bayar per foto 10 ribu.  Itupun hanya di share lewat fasilitas share it di Android.

Akhirnya dengan berat hati ada beberapa foto yang kita relakan untuk tidak diambil. O iya,  tiket masuk kita bisa ditukarkan dengan milo di gelas plastik kecil

Karena hari bertambah panas, kami segera meninggalkan Maribaya.  Karena masih pagi,  antrian tidak terlalu panjang,  hanya dua jam kami disana,  semua wahana yang kita mau,  bisa kita naiki.

Sisa waktu di Bandung kita habiskan dengan keliling FO,  ketemu kelurga mba Dwi di Dago sayang gak foto foto serta ketemu mba Ellen bekas teman kantor di. Image Communication. 
Next, Boscha,  museum 4 dimensi,  Farm House,  Floating Market sama Little korea jadi incaran kita, kalau nanti liburan ke Bandung lagi,  Aamiin. 

Hidup Sehat Yang Menghasilkan Uang

Hi Mom... Kemarin  nih di acara pemberian penghargaan member USANA di Grand Ballroom Pantai Indah Kapuk Avenue, 10 November 2012, saya ...