Jumat, 30 April 2021

Operasi Keloid Tidak Ditanggung Asuransi

Hi Mom...

Sengaja nih bikin judul seperti ini, biar langsung pada meluncur ke blog ini dan gak ngalamin kayak gw ya. Baca sampai habis cerita kumplitnya soal ini ya.

Badan Meriang sejak akhir tahun 2020.

Entah kenapa bulan April ini badan kok letih lesu, bukan karena puasa  loh ya. Begitu masuk puasa malah lebih parah lagi.

Badan seperti gak ada tenaga, badan meriang sumeng seharian. Bekas jahitan Operasi Kista  jadi keloid dan nyut nyutan sesekali tapi tiap hari.

Sebetulnya gw sudah tahu kalau ada bakat keloid tapi waktu operasi tahun 2019 lalu gw lupa bilang sama dokter  yang menangani dari awal.

Sampai akhirnya ketika seminggu kemudian mau buka jahitan, kelihatan mau jadi keloid, dokternya nyaranin untuk disuntik biar gak jadi keloid. Tapi saat itu gw lagi parno sama jarum suntik kayaknya cukup deh ditusuk sana sini saat sebelum operasi.

Dokternya sih bilang gapapa kalau gak mau disuntik yang penting suami gak keberatan apalagi kalau dari estetika gak bisa lagi pakai bikini di pantai ha..ha...

Gw pikir kalau rajin pakai dermatix gak akan jadi keloid dan akhirnya itu jadi keputusan yang salah deh kayaknya.

Setelah setahun lebih akhirnya gw putusin buat cek up selasa 20 April 2021. Sesuai prosedur selama covid, gw tes antigen sebelum konsultasi dengan dokter.

Untuk pertama kalinya gw tes antigen, untungnya hasilnya negatif. Seperti dugaan gw, dilihat dari hasil USG terlihat akar keloid sudah sedikit masuk ke dalam.

Gw dikasih pilihan untuk segera membuang keloidnya atau menunda tapi resikonya akar keloidnya akan semakin ke dalam dan mengeras, bisa jadi kanker nantinya.

Operasi Lagi...

Reaksi gw sama seperti saat tahu ada kista di kulit payudara, takut sedih gemetaran tapi gak pingin menunda karena buat apa apa toh badan gw juga gak nyaman. 

Keloid di payudara ini sedikit bermasalah karena selain jaringan urat syarafnya banyak, waktu operasi kista hanya sedikit jaringan yang di ambil karena hanya di kulit payudara.

Beda dengan bekas operasi sesar dan usus buntu, bekasnya di badan gw, keloidnya makin lama makin tipis. Kalau menurut dokter kenapa keloidnya tidak membesar karena jaringan yang diambil banyak, kan dibuka sampai dalam perut.

Akhirnya kita putusin deh untuk operasi membuang bekas keloid. Seperti selama ini yang kita lakukan meminta administrasi rumah sakit untuk cek di cover atau tidak. 

Waktu itu tanggal cek up 20 April 2020, rencana operasi tanggal 23 April menyesuaikan dengan jadwal libur suami.

Sebelumnya gw melakukan tes PCR karena kan hasilnya agak lama, plus rontgen, tes darah dan urine. Saat melakukan ini kita berdua tetap berpikir positiv dan menyiapkan mental untuk operasi jumat nanti.

Kamis sore gw diantar suami masuk ke RS untuk rawat inap (karena syarat pakai asuransi ya harus nginap). Sebelumnya lapor lagi dong ke administrasi RS kalau mau rawat inap dan operasi besoknya dan gak ada komentar apa apa.

Gw masuk di kamar kelas 1 yang isinya dua orang, gw pikir lagi pandemi gini gw gak mau sendirian di kamar. Karena pop gak bisa nginep di RS,  Nayla sendirian di rumah, dia kita larang untuk ke RS.

Sempat buka puasa bareng dulu bareng pop, baru habis itu dia pulang. Malam itu setelah ngobrol sebentar sama pasien sebelah, gw tidur dengan harapan besok bisa berjalan lancar.

"Selang infus.jpeg"
Kita berdua (gw sama pasien yang sekamar) dibawa ke ruang operasi tepat waktu, jam 8 pagi. Suami tersayang sudah dari jam 7 pagi sampai di RS jadi begitu kelar operasi, pop mendampingi hingga masuk ke kamar.

"Persiapan operasi.jpeg"

"Siap siap ke kamar operasi.jpeg"
Sebelumnya saat gw masih di ruang operasi, suster keluar untuk menunjukkan jaringan keloid yang mereka potong ke suami gw. Kali ini dia foto dengan lebih mantap gak gemetaran, sepertinya loh ya.
"Jaringan keloid.jpeg"
Entah kenapa obat anestesi kali ini, bikin mata gw dua duanya sembab jadi mereka menawarkan untuk menginap semalam  lagi sampai mata gw gak sembab.

Wah gw gak mau, udah kangen banget sama Nayla. Lagian gw pikir mata sembab bisalah dikasih obat apa kek.

Mereka setuju untuk memberi obat sore itu melalui selang infus yang masih terpasang. Sore itulah gw dan suami saat mengurus administrasi, mulai merasa ada yang janggal.

What....

Pihak administrasi mengatakan  belum dapat kabar dari asuransi, padahal gw sudah selesai operasi hiks. Selain itu pengobatan gw ini belum tuntas, bekas operasi keloid harus disinar biar dia gak berulang kembali jadi keloid.

Habis buka infus gw sempat protes kenapa gak ngasih tahu pas gw mau daftar kemarin untuk rawat inap? alasan si mba admin, karena mau operasi ya biar operasi dulu sambil nunggu jawaban dari asuransi, grrrrhhhhhh......

"Bekas infus.jpeg"
Ini kan operasi yang gak harus segera saat itu juga dilaksanakan gw masih bisa kok nunda beberapa hari walaupun nyeri, tapi malah ambil keputusan sendiri.

Gw juga gak ngerti kenapa dokternya gak bilang kalau ini masuk operasi estetika? mungkin  special case karena nyeri dan bikin demam?. Kita sih berusaha ber husnudzon atau berbaik sangka untuk segalanya.

Yang kita sesalkan kenapa gak ada info kalau asuransi belum ngasih jawaban. Kalau asuransi swasta gak coverkan, kita bisa coba untuk pakai BPJS walaupun gak tahu juga apakah operasi keloid dengan sepcial case kayak gw bisa di cover BPJS juga, tapi kan minimal kita punya opsi pembayaran lain. 

Suami menenangkan gw karena badan masih belum pulih dari obat bius, dia bilang sebaiknya kita pulang aja nanti kantor yang urus. Besoknya HRD Kantor bilang untuk minta keterangan sekali lagi dari dokter  bahwa operasi keloid ini memang urgent.

Hingga suatu malam pop ngajak ngobrol gw, bahwa dia punya kabar baik dan buruk. Waduh gw gak suka situasi kayak gini.

Akhirnya suami gw yang ambil keputusan, dia ngasih kabar baik dulu ke gw. Kabar baiknya  akhir Juni kita liburan karena Nayla sudah selesai ujian kenaikan kelas, tapi tetap lihat situasi karena masih pandemi.

Berita buruknya asuransi sudah finish menolak untuk mengcover biaya operasi dan lain lain karena ini termasuk operasi estetika atau kecantikan. Degggh... langsung deh gw nangis bombay, kalau operasi keloid gak di cover gimana dengan penyinaran nanti?.

Pop sampai berulang ulang bilang dia ikhlas keluar uang untuk bayar operasi, karena dia kerja keras untuk gw dan Nayla. Kalau gak mau ambil uang tabungan, Kantor juga mau bayarin dulu nanti tinggal potong gaji tiap bulan.

"Sudah jangan nangis, kan pop kerja jadi bisa bayar apapun pilihannya mau ambil uang tabungan atau pinjam dari kantor, uang bisa dicari mom yang penting mom sehat, nanti kita coba pakai BPJS ya untuk penyinaran". Ealah denger omongan pop kayak gini tambah bikin sedih.

HRD kantor suami menyarankan pop untuk protes soal tidak adanya pemberitahuan ke kita tentang belum ada kabar dari asuransi sehingga merugikan kita sebagai pasien.

Pasrah...

Setelah gw pikir pikir gak usah ajalah, karena bakalan ngabisin energi yang ujung ujungnya belum tentu dapat ganti rugi. kalaupun dapat pasti prosesnya panjang.

Gw lagi gak punya energi untuk melakukan ini mana lagi puasa. Selama lebih dari 13 tahun berobat di sini kita gak pernah dikecewakan selain masih dekat rumah, rumah sakitnya bersih dan lumayan kumplit peralatannya.

Selama pandemi mereka gak terima  pasien covid, mau konsul dokter aja kita harus tes antigen. Protokol kesehatannya cukup ketat dan ruang lobinya gak ramai dengan anak kecil berkeliaran, mungkin adminnya orang baru atau lagi punya masalah jadi gak konsen kerja.

Sekarang konsentrasi kita mencoba pakai BPJS untuk penyinaran bekas operasi keloid biar dia gak jadi keloid lagi kan.

Selain itu gw dapat kabar mami ngedrop, lengkaplah sudah keengganan gw untuk protes  ke RS. Terserahlah orang mau bilang apa, otak gw kayak mau pecah mau hang menyerap semua kejadian ini.

Untunglah punya suami yang menenangkan dan mengabulkan permintaan gw untuk gak melanjutkan masalah ini serta ada Nayla yang bikin gw juga semangat untuk cepat sehat.

Biarlah orang orang yang begini sama kita merasakan sendiri apa yang kita alami. Biar jadi urusan Allah aja deh, karena ada hal hal penting lain yang harus kita beresin.

Moral storynya lain kali kita tunggu dulu penjelasan kumplit dari dokter dan rumah sakit apakah dicover atau tidak, biar pihak rumah sakitnya juga gercep untuk komunikasi sama asuransi. 

Dan sambil urus penggunaan BPJS minimal bikin surat pengantar dan rujukan juga perlu waktu yang lumayan.

Gw juga sengaja untuk gak menulis nama rumah sakit dan polis asuransi yang kita gunakan, karena gak mau menyudutkan salah satu pihak. Hanya ingin berbagi pengalaman.

Tulisan di blog berikutnya tentang gw mulai mencoba memakai BPJS untuk Penyinaran Bekas Keloid part 1. Part 2 menyusul ya, makasih buat yang sudah mampir jaga kesehatan tapi jangan lupa untuk bahagia.

Senin, 26 April 2021

Selamat Jalan I Gusti Putu Danny

Hi Mom....

Sebenarnya minggu ini lagi gak mood buat nulis di sosmed apalagi nulis di blog. Tapi ada kejadian gak terduga dengan orang baik yang gw kenal, harus bikin sedikit tulisan biar gak hilang dari memori.

Selama jadi reporter, gw  paling banyak ditempatkan di desk militer sama istana. Saat di desk militer inilah gw pertama kali kenal dengan Mayjen TNI Anumerta I Gusti Putu Danny.

Yup Anumerta karena Bli Danny (sebelumnya manggil mas, setelah tahu dia orang Bali gw manggilnya jadi Bli) gugur dalam tugas membela NKRI di Timika Papua minggu 25 April 2021 pukul 15.50 WIT.

Gw rasanya gak sanggup buat nulis gimana caranya dia meninggal. Karena tertembak kepala bagian belakangnya hingga tembus ke bagian depan kepala itu yang bikin dia langsung gugur.

Banyak yang bertanya apa daerahnya sudah di sterilkan ketika beliau sedang meninjau lokasi bekas kerusuhan? kenapa naik motor? kenapa beliau bisa dikenali?. 

Sudahlah badan gw lagi gak fit buat mikirin apa ya jawaban jawabannya. Pingin nulis  ketika pertama kali kenal orang baik ini saja .

Layaknya liputan ke medan perang (antara 1999-2000) 

Waktu itu  perpolitikan Indonesia masih terguncang pasca-tumbangnya Orde Baru, digelar referendum di Timor Timur di bawah perjanjian yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) antara Indonesia dan Portugal. Hasilnya, Timtim lepas dari NKRI.

Sehari sebelumnya gw masih kerja dan liputan sampai malam, besoknya langsung ditugaskan untuk meliput ke Timor Timur (Timtim). Mendarat siang di Timtim dalam keadaan ngantuk berat,  karena berangkat jam 2 subuh bareng Panglima TNI Wiranto dan rekan rekan media  dari bandara Halim Perdanakusuma menggunakan Hercules.

Bukan mau cerita lagi ngapain di sana, tapi pingin cerita ada tentara  tinggi besar kek Indo yang duduk sambil baca buku di bangku dekat meja tempat gw tepar tertidur sambil duduk telungkup dengan kepala di meja. 

Pas terbangun gw lihat rekan rekan media lain yang ikutan tidur gak ada di ruangan tapi beberapa kamera tv  berjejer di meja tempat gw tertidur (semoga gak ngorok  dan ngiler euy). 

Melihat gw bangun, tentara ini bilang "akhirnya bangun juga" katanya sambil tertawa. Dia bilang konferensi pers belum mulai, sementara yang lain ada yang ke kamar mandi sama makan.

Spontan gw tanya, "lah terus masnya lagi ngapain". Dia jawab "Mana bisa saya tinggalkan kamu sendiri tidur di sini, saya diminta jaga ruangan karena semua kamera tv ada di sini dan ada reporter yang lagi tidur" wkwkwkw maklum begadang😊.

Akhirnya setelah kenalan gw tahu tentara baik hati,  cakeup kasep😍 yang gak tega bangunin gw tidur (karena dia tahu  gak semua orang kuat naik Hercules ke Timtim) namanya I Gusti Putu Danny dari Kopassus waktu itu pangkatnya masih  Kapten.

Gak hanya itu dia jagain juga pas gw iseng mau ngasih makanan dari pesawat yang gak gw makan untuk pengungsi yang ada di bandara. "Bilang  saya kalau mau dekati mereka, kalau gak dikawal bisa bisa kamu kena sumpit beracun," segawat itu situasi di sana.

Sempat nanya juga kenapa orang Bali namanya Danny (pertanyaan yang aneh sih, lah anak gw aja namanya Alanis😋), dia bilang ibunya orang Amerika. 

Komunikasi ini sudah lamaaa banget saat masih pakai BBM, begitu nomer hape mati karena lupa ngisi pulsa hilanglah semua kontak.

Beberapa kali iseng gugling untuk cari kabar hanya ketemu nama tanpa foto. Pastinya beliau ini gak main sosmed yang waktu itu belum marak apalagi dulu dia pernah menjadi Asintel Danjen Kopassus

Sampai akhirnya tanggal 25 April 2021  gw baca sekilas ada jendral bintang satu, Kepala BIN Daerah Papua gugur di Timika (gw gak baca kumplit krn body lagi gak delicious).

Gw belum tahu siapa yang meninggal sampai akhirnya saat gw baca twitt teman di grup, gw tersentak baca namanya dan lihat fotonya lagi (akhirnya Bli, sekarang semua media memuat fotomu). 

Gw sempat ragu dan berharap bukan orang yang gw kenal, tapi garis muka dan postur tubuhnya sama. Sedih pastinya ... langsung bilang ke pop kalau Kabinda Papua yang meninggal itu orang yang selama ini gw ceritain berulang ulang.

Sedikit menyesal dulu gak bisa datang saat diajak reuni kecil untuk ketemuan di Jakarta sama Bli Danny karena dia bertugas di sekitar istana negara sekembali dari liputan di Tim tim.

Maklum lagi dateline dan pas kelar sudah malam, yang masih harus menempuh perjalanan pulang ke rumah orang tua di Pondok Gede, jadi lupakan kongkow sehabis kerja.

Kabinda Papua
"Alm. Kabinda Papua.jpeg"
Selamat jalan bli Danny, senang sudah mengenal dirimu. Semoga di tempat yang terbaik sekarang karena bli orang baik.

Makasih buat yang sudah mampir, jaga kesehatan ya tapi jangan lupa bahagia.

Gagal Divaksin Covid-19

Hi Mom... Setelah penantian panjang akhirnya dapat juga jadwal untuk divaksin Covid-19. Maklum gw kan sekarang sudah gak bekerja, bukan gur...