Selasa, 29 Mei 2018

Ramadan, Bulan yang Paling Dirindukan

Marhaban ya Ramadan, kalimat seperti ini yang selalu dirindukan umat muslim setiap tahun dan berharap bisa mencapai dan melalui bulan penuh berkah tersebut.

Membaca tulisan Julia Amrih Ramadan bersama keluarga ngapain aja jadi ingin mengenang saat-saat ketika kita nyekar, berbuka puasa bareng keluarga atau teman, sholat tarawih dan sholat Iedul Fitry.
Nayla di makam opanya
Saya ingat ketika masih kecil dulu, ada kalanya saya nyolong minum sesekali hi...hi.... karena kebetulan orang tua saya bekerja, hanya ada kakak, adik-adik dan asisten rumah tangga.
  
Kadang kami hanya berbuka sendiri karena mereka berdua belum pulang atau sesekali ditemani salah satu yang sudah duluan tiba di rumah. Akhir pekan baru kumplit berbuka puasa semua.

Saya sudah lupa makanan atau takjil yang disajikan yang pasti jarang berbuka di luar rumah, maklum kami enam bersaudara, agak rempong mungkin mereka mencari tempat berbuka di luar.

Ketika saya dewasa dan sudah bekerja, kegiatan buka puasa di bulan Ramadhan kerap kali dilakukan di luar rumah, entah di kantor atau ramai-ramai berbuka puasa di resto.

Buka puasa dan sholat berjamaah
πŸ’™  πŸ’š  πŸ’›  πŸ’œ  πŸ’• 
Nah yang paling seru ketika saya sudah menikah dan punya anak. Apalagi ketika dia baru belajar puasa setengah hari, seringkali ketika jadwalnya makan siang, Nayla anak saya sendirian makan dan meminta kita untuk ikutan makan. 

Kita menjelaskan dengan kalimat sederhana, kalau orang dewasa harus berpuasa tidak makan dan minum, sampai adzan maghrib.

Tapi ketika dia sudah berumur lima tahun dan bisa puasa sampai full, lama-lama terasa repot ya kalau buka puasa di mal. selain harus antri makanan dan tempat duduk dari pukul 16, harus antri juga untuk sholat maghrib, malah kadang tidak kebagian tempat buat sholat.

Akhirnya setelah beberapa tahun terakhir ini, kalau mau buka puasa di mal, kami hanya berbuka dengan air putih plus roti atau kurma terus langsung antri sholat maghrib. Kelar sholat baru deh antri makan, kalau lama gak masalah kan sudah sholat Maghrib. 

Atau lebih asik lagi kalau bukbernya di rumah teman atau di rumah omanya Nayla, karena gak harus antri makan dan tempat sholat, semua bisa dilakukan, buka puasa bareng plus sholat berjamaah. 

Buka puasa di masjid  dan sholat Ied
πŸ’™ πŸ’š πŸ’› πŸ’œ πŸ’
Ketika ada waktu di akhir pekan, kita mengajak Nayla berbuka puasa di masjid. Nayla beberapa kali kita ajak berbuka puasa di Masjid Istiqlal, kami datang kira-kira satu atau dua jam sebelum berbuka.

Sudah pasti gak dapat takjil atau makanan buka puasa, karena biasanya sudah dibagikan sebelum sholat Ashar. 

Mana tahan sebelum Ashar sudah nangkring di Istiqlal, pas bulan puasa, karena saya harus bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil, sementara kadang keadaan kamar mandi karena orangnya ribuan, jorse banget deh (maaf ya).

Jadi kita ke masjid Istiqlal, sudah berbekal minuman, sama cemilan. Kelar berbuka dan sholat maghrib, kita keluar cari makanan di pelataran parkir yang enak-enak dan banyak variasinya, yang paling top buat saya, nasi pecelnya nyaaaam.

Kelar makan, kita masuk lagi untuk sholat tarawih. Semoga berkesan deh buat Nayla, buka puasa, dan sholat dengan ribuan orang. 

Serta tidak lupa Nayla kita ajak untuk ikut sholat Iedul Fitry di lapangan terbuka dan belajar berbagi rizki dengan orang-orang yang membutuhkan.
Gorengan 0h Gorengan 
😍 😍 😍 😍 😍 😍 😍
Nah ini tradisi gak bagus di keluarga besar saya, dan akhirnya menular di keluarga kecil saya, berbuka dengan gorengan, ambooiiii enaknya, bisa empat potong pastel atau risol yang kulitnya garing dicelup sambel kacang, masuk ke perut, hadeeeeh ini keterlaluan enaknya.

Atau dengan tempe mendoan yang dimakan dengan cabe rawit, aduuuuuh kok jadi kepingin. Tempe yang di goreng dengan tepung setengah matang alias kekuningan ini bisa juga dimakan dengan kecap yang diberi irisan cabe rawit, bawang merah dan perasan jeruk nipis nyaaaam.
Untungnya Ramadan kali ini setelah hampir dua minggu berpuasa, baru tiga kali berbuka dengan gorengan, dua kali bikin sendiri, satu kali ketika berbuka bareng di rumah omanya Nayla, hi...hi...susah menghindar dari gorengan kalau sudah kumpul keluarga besar.

Nyekar di makam kakek dan makam opa
πŸ‘¬ πŸ‘¬ πŸ‘¬ πŸ‘¬ πŸ‘¬ πŸ‘¬ πŸ‘¬
Kebetulan dari Nayla lahir hanya memiliki dua nenek, karena kakek sama opanya sudah lama tiada. Jadilah setiap ada kesempatan atau ketika Ramadan dan Idul Adha, jadi kegiatan rutin untuk nyekar makam mereka berdua.

Beberapa hari menjelang puasa tahun 2018 ini, kami bersama nenek dan adik suami sudah nyekar ke makam kakek di Tanah Kusir. Rencananya nyekar ke makam opa di Pondok Kelapa, setelah Nayla kelar ujian minggu kedua di bulan Juni  2018.
Saya dan suami selalu membayangkan, seandainya mereka masih ada pasti senang dan sayang sama Nayla. 

Kalau kakek panggilan untuk papa suami saya, ketika meninggal saat anak-anaknya masih kecil, jadi tidak sempat melihat cucunya yang saat ini hampir berjumlah lima orang (Nayla cucu nomer dua di keluarga suami).

Sedangkan opa sebutan untuk almarhum bapak saya tersayang,  ketika beliau meninggal sempat melihat dua orang cucunya. 

Sekarang cucu opa sudah ada 14 orang, Nayla cucu nomer delapan, aiiiih terbayangkan kalau lagi kumpul di rumah omanya sudah kayak posyandu.

Dan Alhamdullilah ketika Nayla berumur tiga bulan, saya bermimpi almarhum bapak saya memandangi Nayla dengan diam dan lamaaa. 

Katanya sih kalau mimpi orang yang sudah meninggal dan tidak berbicara itu benar-benar penampakan dia. Apapunlah itu,  rasa kangen saya terobati dan beliau sudah melihat Nayla.

Ah Semoga Ramadan tahun ini bisa kita lalui dengan sempurna ya dan masih bisa menyambut Ramadan tahun depan, Aamiin.

Blog tanggapan #KEBloggingCollab dari kelompok 15 Yohana Susana untuk  post trigger Julia Amrih kelompok Najwa Shihab.

Selasa, 22 Mei 2018

Cinta Terencana Resep Jitu Keluarga Berkualitas

Masih ingatkah ketika kecil dulu kita punya impian untuk sekolah apa atau kerja dimana? saya masih ingat sedikit, jadi dokter atau pramugari, kadang hanya ikut-ikutan teman, bahkan tidak tahu maksudnya apa.

Tapi impian untuk menikah saya baru mendengar ketika sudah SMA. Kala itu ada teman yang mengatakan umur 25 tahun nanti ada pacar atau tidak harus menikah, waktu itu sih kita yang mendengar hanya tertawa, kok ada sih yang kepikiran seperti itu.

Apalagi kalau ada yang bilang kepinginnya sih menikah di pantai, di Bali, seperti Cinderela bla...bla....aduuuh tidak pernah terfikir oleh saya.

Mungkin karena melihat ada beberapa perceraian di keluarga besar ibu saya, yang sebagian besar penuh drama, membuat saya tidak nyaman. Makanya ketika menemukan yang klik, sabar dan agamanya baik, plus (ini yang penting) berani mengajak saya menikah, barulah keinginan terpendam saya buka ke calon suami.

Saya minta kalau bisa sih satu anak saja, saya takut tidak bisa berlaku adil kalau anak lebih dari satu (itu yang saya rasakan di rumah orang tua saya). Apalagi saya tidak suka rumah berantakan kalau anaknya banyak😊.

Untungnya calon suami saya setuju (kebetulan kami satu kantor dan kemudian jadi sahabat selama 2,5 tahun sebelum jadi pacar). Karena semua serba mahal termasuk pendidikan, dan ketika nanti anak saya harus menempuh pendidikan, pastinya akan terasa sekali.

Sebenarnya saya juga tidak mau mengulang pengalaman masa kecil yang selalu menunggu giliran bila ingin sesuatu, atau bahkan tidak dikabulkan karena ada hal lain yang lebih penting, penyebabnya hanya satu, kami 6 bersaudara semua kebutuhan harus dipenuhi.
Sepertinya kami hitung-hitungan sekali ya, padahal sih tidak juga, saya lagi senang-senangnya liputan di lapangan dan karena tidak punya keluarga yang tinggal di rumah yang bisa mengawasi asisten rumah tangga untuk mengasuh anak saya, akhirnya saya memutuskan berhenti kerja.

Nah kalau anaknya banyak, bisa-bisa saya yang tidak sabaran ini, tidak fokus mengasuhnya, yang penting berkualitas ketimbang mikirin kuantitas kan.

Soal keluarga berkualitas saya seperti mendapat dukungan yang besar dari BKKBN. ketika saya mengikuti Talkshow Blogger bersama BKKBN menyambut hari keluarga nasional tanggal 15 Mei 2018 lalu, berlokasi di museum Penerangan TMII.

Salah satu pembicaranya Eka Sulistya Ediningsih, Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN, menjelaskan keluarga yang sehat jasmani dan rohani, sejahtera dan berkualitas merupakan fondasi  untuk terwujudnya bangsa yang maju, kuat dan tangguh.
Eka Sulistya Ediningsih, Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN
Wah sepertinya kami dulu secara tidak sadar merencanakan dan ingin mewujudkan keluarga ideal seperti ini. Eka menambahkan tujuan berkeluarga itu untuk mewujudkan kesejahteraan lahir bathin dan akan lebih berkualitas bila hidup dalam lingkungan yang sehat.

Hari keluarga Nasional - BKKBN 
πŸ’™  πŸ’š  πŸ’›  πŸ’œ  πŸ’• 
Ketika diundang (lebih tepatnya sih diundang karena saya daftar hi..hi...) untuk ikutan talkshow ini saya senang sekali, temanya pas buat saya, serunya sebelum acara dimulai, kita menyanyikan lagu keluarga berencana jaman Suharto dulu, jadi dilema, kalau ikut nyanyi ketahuan angkatan berapa, tidak ikut nyanyi, lagunya ngangenin ha...ha.

Tema yang diusung Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional BKKBN, membangun keluarga berkualitas dengan cinta terencana, sengaja dipilih karena menuju hari Keluarga Nasional tanggal 29 Juni 2018 nanti, BKKBN ingin menghentikan pernikahan anak di bawah umur.

Miris hati ini ketika melihat ada anak dibawah umur menikah, waaah tidak terbayang Nayla anak saya satu-satunya melakukan hal tersebut.

Karena umur di bawah 20 emosinya masih labil, lebih mengutamakan ego dan emosi, saya saja yang menikah di atas 20 tahun sampai hari kadang masih seperti itu (maaf ya suamiku sayangπŸ’‹). Belum lagi kondisi kandungan yang belum siap, salah satunya bisa terkena kanker servik, tuh ngerikan.  

Pekerjaan rumah buat kami orangtuanya, untuk membentuk generasi ideal yang terencana caranya dengan mengajarkan Nayla tidak menikah dini  atau tidak menikah dibawah usia 21 tahun, tidak melakukan seks bebas, dan tidak memakai narkoba.

Fiuuuh berat ya, padahal untuk saat ini saja, saya menghadapi anak saya calon remaja berusia 11 tahun, agak kesulitan. Kami kehilangan kesempatan untuk tidur bareng bertiga, karena saat ini dia senang untuk tidur sendiri, baca buku, atau sekadar main handphone dengan kamar terkunci.

Saya yang tidak pernah mengunci pintu ketika masih seumur dia karena kamar harus berbagi dengan kakak perempuan satu-satunya di rumah, merasa kehilangan dan tidak mau terima kenyataan dia mulai kepingin sendiri.

Untungnya saya dapat pencerahan dari pembicara kedua di acara talkshow BKKBN, Roslina Verauli, psikolog anak dan keluarga. Menurut Roslina wajar anak se-usia Nayla kepingin sendiri ketika di rumah, masa dimana dia mulai beranjak dewasa dan kepingin punya kebebasan.
Roslina Verauli, Psikolog anak dan keluarga
Ah saya seperti tertampar dan sedih, karena kadang saya teriak meminta Nayla membuka pintunya, padahal dia sedang belajar mengenal dirinya sendiri dan senang karena mempunyai kamar sendiri

Pulang dari talkshow, saya minta maaf sama Nayla karena sering memarahi kebiasaannya sering mengunci pintu kamar. Nayla juga pelan-pelan berubah, dia juga tidak melulu di kamarnya kok, untuk menonton televisi kadang dia di ruang keluarga atau di kamar saya, bahkan tidur siang lebih sering di kamar saya.

Selain itu, kami juga mencoba untuk menguatkan satu sama lain dengan nilai agama di dalam keluarga kecil kami, semoga dengan agama yang kuat, kami bisa tenang melepas Nayla, dimanapun dia mau sekolah dan bekerja nantinya, Aamiin.
  

Duo Bekal Camilan Sehat dari Julie's Biskuit

Selamat pagiiiiii...... Kita ngomongin soal bekal makan siang buat anak sekolah sama bekal suami yuk. Biasanya nih bekalnya gak jauh j...