Selasa, 22 Agustus 2017

Stop Bully Ala Nayla

Bullying atau bahasa Indonesianya perundungan ini, pernah dialami  anakku Nayla, ketika dia masih berumur 6 tahun lebih dikit,  pas baru duduk di kelas satu SD.

Masih kecil memang, tapi Nayla ini kan bawel banget persiiiiiis…. Emaknya☺, jadi apa saja dia ceritain.  Bahkan sebelum copot sepatu, kalimat pertama dia, “Mama tau gak….”.

Kejadian waktu itu teringat kembali, apalagi soal bully ini sekarang lagi marak kan, dan saya ingin berbagi cerita, juga untuk menanggapi tulisan mak Nia haryanto di Web KEB.
http://emak2blogger.com/2017/08/22/waspadai-bullying-pada-anak/
 
Nah hari itu (4 tahun yang lalu) dia cerita, kalau dia sering banget didorong atau dijegal  kakinya sama cewek, kakak kelas 6.

Salah satu alasannya (menurut nayla) karena dia pakai bando dan kacamata bolong yang modelnya unyu-unyu ada pink, hijau atau putih.

Karena kakak kelasnya selalu bilang, “Gak usah sok cantik deh”, sambil nyolek muka dia. 

Aduuuh Nayla itu kan masih kecil, pedenya tinggi, gak pemalu,  dan dia sudah biasa begitu dimana saja, bukan mau sok sok-an.
Saya bilang ke dia,  “Mungkin dia kepingin pakai kacamata bolong kayak kamu cuma malu,”.

Makanya saya larang ketika Nayla memutuskan untuk tidak pakai bando atau kacamata bolong lagi.   

“Kalau kamu masih nyaman pakai itu, pakai saja, jangan sampai kamu gak pakai karena ada orang  yang tidak suka, guru kamu aja gak melarangkan”.
Sampai akhirnya suatu hari, lagi-lagi ketika pulang sekolah dia cerita kalau dia nangis tadi sekolah. 

Penyebabnya adalah ketika jam istirahat, dia didorong  sampai jatuh ke lantai, tidak luka sih hanya harga dirinya yang terluka.

Dia tidak sempat cerita ke gurunya, karena sudah bel masuk dan mau ulangan. Untungnya anak saya gak cengeng banget jadi ketika masuk kelas tangisnya sudah reda (menurut pengakuan dia).

Kok jadi serius begini ya, akhirnya saya whatsapp wali kelasnya, saya ceritakan kejadiannya plus nama anak pelakunya. Wali kelasnya janji untuk memanggil anak itu esok harinya.

Selain itu saya coba untuk mendapatkan nomer telfon genggam orang tua anak ini melalui teman yang kebetulan punya anak yang sekelas dengan pelaku.

Saya tidak bermaksud  untuk menelfon orang tuanya, hanya untuk berjaga-jaga, kalau kejadiannya lebih jauh dari sekedar mendorong sampai jatuh, mungkin saya harus memberitahu orang tuanya.

Kenapa saya tidak langsung menghubungi orang tuanya? karena bila ada masalah dengan anak saya di sekolah, saya serahkan dulu kepada guru untuk menyelesaikan.

Kalau masalah tetap berlanjut nantinya, mungkin saya minta untuk ketemu orang tuanya dengan didampingi guru  tentunya.

Seperti yang mak Nia bilang di Blognya, menghadapi anak yang sudah kena bully, kita harus bijak, jangan mengikuti emosi dan segera menghubungi wali kelas bila keadaan makin serius.

Saya sih berharap besoknya masalah selesai deh. Kebetulan anak saya pergi dan pulang dengan ojek langganan, makanya ke esokan harinya saya menawarkan diri buat mengantar dia ke sekolah.

Jawabannya mengejutkan, “gak usah ma,  mama sudah bilang sama bu Sri (wali kelasnya) kan, Nayla juga sudah minta Jasmine buat nemenin dan fotoin anak itu nanti,”. 

Jasmine salah satu teman dekatnya kebetulan bawa telfon genggam yang ada kameranya (waktu itu belum ada larangan).

Aduuh anak mama ini, kadang cengeng sedikit, kadang  suka ngambek tapi kadang juga sok tegar …. sedikit.  Dia janji nanti tidak akan main atau ke kantin sendirian, minimal ada satu sahabat yang menemaninya

Eh bener lo mereka berdua berhasil foto anak itu dan dikirim ke whatsapp saya,  perundung itu raut mukanya jutek, sepertinya bukan anak yang happy  hi…hi….☺

Dan hari itu gurunya berhasil mempertemukan kakak kelas dan nayla. Sudah saling bermaafan dan menjelaskan alasannya cuma iseng, hadeeeeeh.

Tapi dia sudah janji untuk tidak mengulangi, jadi drama bully membully ini hanya berlangsung kurang dari  setengah semester.

Saya bersyukur anak saya mau dan bebas cerita apa saja sama kami orang tuanya, yang kadang saya mendengarkan sambil cuci piring, nonton tv atau lagi balas sms ha…ha…. 

Sebelumnya saya sudah bilang,  kalau saya lagi mengerjakan sesuatu cerita saja, mama tetap dengerin kok.

Coba kalau anak saya tidak biasa bercerita, dan saya juga tidak pernah menanyakan sesuatu ke dia, pasti ceritanya akan lain.

Selain itu saya biasa pas tidur mengusap sama pijat-pijat pelan badan Nayla dari kepala sampai kaki jadi kalau ada sesuatu yang janggal akan ketahuan.

Ada yang menyarankan membekalinya ilmu bela diri,  dia belum berminat, hobbynya masih  beryanyi, menggambar,  menari sama balet. 

Untuk sementara kami menyelesaikan masalah dengan orang lain dengan cara bercerita dan diskusi, selama ini efektif sih. Saya memang berusaha untuk mengenal teman-teman anak saya dan orang tuanya. 

Kebetulan juga sejak anak saya mulai sekolah, kita para orang tua ini juga membuat grup khusus untuk kegiatan sekolah. Jadi bisa cepat ketahuan bila ada masalah dengan anak-anak kami.

Tidak lupa, doa saya selalu untuk Nayla, "Semoga kamu kuat dan bisa menyelesaikan masalah dengan caramu sendiri ya nak".

Sekarang  di usianya yang hampir 11 tahun ini, saya kangen deh lihat dia pakai kacamata bolong. Sudah mulai bosan kayaknya, kecuali pakai bando atau jepit rambut☺☺☺.

#KEBloggingCollab -  Grup ke 15 Yohana Susana

Rabu, 02 Agustus 2017

Malam Serasa Siang Berkat Philips......Yaaaay

Malam hari akan lebih menyenangkan buat daerah-daerah terpencil yang belum terjamah aliran listrik, kurang lebih 25 desa di Sumatera Utara, Bali Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku.

Biasanya sih, anak-anak belajar hanya sampai sore, karena malam hari agak sulit melihat buku dengan bantuan cahaya obor, lilin atau lampu minyak tanah.

Kadang untuk kesehatan juga enggak baik, bila dinyalakan di ruangan tertutup.

Apalagi untuk Puskesmas, yang menjadi andalan masyarakat di daerah terpencil, hanya bisa beroperasi sampai sore hari

Nantinya semua akan menjadi masa lalu berkat  Philips Lighting yang memberikan sistem pencahayaan LED tenaga surya untuk menerangi lebih banyak desa terpencil di seluruh Indonesia melalui  program “Kampung Terang Hemat Energi”.

Program ini akan menyediakan penerangan untuk rumah dan fasilitas umum seperti puskesmas, sekolah dan jalan umum.

Anak-anak bisa belajar di malam hari, puskesmas bisa beroperasi dengan layak dalam keadaan darurat di malam hari dan mobilitas masyarakat serta barang tidak lagi terbatas hanya pada siang hari. 

Seperti yang dikatakan Rami Hajjar, Country Leader Philips Lighting Indonesia.  
Country Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar (tengah) didampingi Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong (kiri) dan Chief Strategy Officer Kopernik Tomohiro Hamakawa (kanan) pada  peluncuran program CSR Kampung Terang Hemat Energi 2017-2018 Philips Lighting Indonesia.
Tomohiro Hamakawa, Chief Strategy Officer Kopernik mitra Philips Lighting Indonesia  program CSR Kampung Terang Hemat Energi,
Rami Hajjar, Country Leader Philips Lighting Indonesia didampingi Lea K. Indra, Integrated Communications Manager Philips Lighting Indonesia
Rami Hajjar, Country Leader Philips Lighting Indonesia dan Tomohiro Hamakawa, Chief Strategy Officer Kopernik menunjukkan lampu jalan LED berbasis tenaga surya: Philips Solar LED Road Ligh
Sebelumnya program “Kampung Terang Hemat Energi” dari Philips ini sukses dilakukan pada tahun 2015 di sembilan desa yang tersebar di tiga kabupaten di Sulawesi Selatan.

Nantinya untuk setiap desa terpilih, program “Kampung Terang Hemat Energi” akan memberikan paket pencahayaan LED tenaga surya Philips yang inovatif.

Terdiri atas: (1) Solar Indoor Lighting System lengkap dengan panel surya, (2) Philips LifeLight yang 10 kali lebih terang dari lampu minyak tanah, dan (3) Solar LED Road Light untuk menerangi jalan-jalan di desa pada malam hari. 

Tahun 2017 ini, program akan diawali dengan menjangkau enam desa di Sumatera Utara.

Senang deh dengan adanya program philips ini, kalau saya mau berkunjung ke daerah-daerah terpencil tidak khawatir bila kemalaman.

Ketika Phillips mengadakan jumpa pers dengan wartawan dan komunitas Blogger, pada masing-masing meja tempat kita makan siang, disediakan Lampu LED dan panel tenaga suryanya.
Akhirnya bisa lihat panel tenaga surya dari dekat
Persiapan jelang jumpa Pers
Sebelum seriusan Maksi dulu kita (saya yang pakai hijab pink polos) #pentinggaksih :)
Beda dengan acara jumpa pers pada umumnya, di meja masing-masing, Philips menyediakan beberapa permainan seperti congklak, sudoku dan teka teki silang.
Sesaat kita yang kebanyakan sudah jadi ibu-ibu ini balik seperti anak-anak lagi deh, main congklak dan mengisi permainan yang lain.

Duo Bekal Camilan Sehat dari Julie's Biskuit

Selamat pagiiiiii...... Kita ngomongin soal bekal makan siang buat anak sekolah sama bekal suami yuk. Biasanya nih bekalnya gak jauh j...