Selasa, 22 Mei 2018

Cinta Terencana Resep Jitu Keluarga Berkualitas

Masih ingatkah ketika kecil dulu kita punya impian untuk sekolah apa atau kerja dimana? saya masih ingat sedikit, jadi dokter atau pramugari, kadang hanya ikut-ikutan teman, bahkan tidak tahu maksudnya apa.

Tapi impian untuk menikah saya baru mendengar ketika sudah SMA. Kala itu ada teman yang mengatakan umur 25 tahun nanti ada pacar atau tidak harus menikah, waktu itu sih kita yang mendengar hanya tertawa, kok ada sih yang kepikiran seperti itu.

Apalagi kalau ada yang bilang kepinginnya sih menikah di pantai, di Bali, seperti Cinderela bla...bla....aduuuh tidak pernah terfikir oleh saya.

Mungkin karena melihat ada beberapa perceraian di keluarga besar ibu saya, yang sebagian besar penuh drama, membuat saya tidak nyaman. Makanya ketika menemukan yang klik, sabar dan agamanya baik, plus (ini yang penting) berani mengajak saya menikah, barulah keinginan terpendam saya buka ke calon suami.

Saya minta kalau bisa sih satu anak saja, saya takut tidak bisa berlaku adil kalau anak lebih dari satu (itu yang saya rasakan di rumah orang tua saya). Apalagi saya tidak suka rumah berantakan kalau anaknya banyak😊.

Untungnya calon suami saya setuju (kebetulan kami satu kantor dan kemudian jadi sahabat selama 2,5 tahun sebelum jadi pacar). Karena semua serba mahal termasuk pendidikan, dan ketika nanti anak saya harus menempuh pendidikan, pastinya akan terasa sekali.

Sebenarnya saya juga tidak mau mengulang pengalaman masa kecil yang selalu menunggu giliran bila ingin sesuatu, atau bahkan tidak dikabulkan karena ada hal lain yang lebih penting, penyebabnya hanya satu, kami 6 bersaudara semua kebutuhan harus dipenuhi.
Sepertinya kami hitung-hitungan sekali ya, padahal sih tidak juga, saya lagi senang-senangnya liputan di lapangan dan karena tidak punya keluarga yang tinggal di rumah yang bisa mengawasi asisten rumah tangga untuk mengasuh anak saya, akhirnya saya memutuskan berhenti kerja.

Nah kalau anaknya banyak, bisa-bisa saya yang tidak sabaran ini, tidak fokus mengasuhnya, yang penting berkualitas ketimbang mikirin kuantitas kan.

Soal keluarga berkualitas saya seperti mendapat dukungan yang besar dari BKKBN. ketika saya mengikuti Talkshow Blogger bersama BKKBN menyambut hari keluarga nasional tanggal 15 Mei 2018 lalu, berlokasi di museum Penerangan TMII.

Salah satu pembicaranya Eka Sulistya Ediningsih, Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN, menjelaskan keluarga yang sehat jasmani dan rohani, sejahtera dan berkualitas merupakan fondasi  untuk terwujudnya bangsa yang maju, kuat dan tangguh.
Eka Sulistya Ediningsih, Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN
Wah sepertinya kami dulu secara tidak sadar merencanakan dan ingin mewujudkan keluarga ideal seperti ini. Eka menambahkan tujuan berkeluarga itu untuk mewujudkan kesejahteraan lahir bathin dan akan lebih berkualitas bila hidup dalam lingkungan yang sehat.

Hari keluarga Nasional - BKKBN 
πŸ’™  πŸ’š  πŸ’›  πŸ’œ  πŸ’• 
Ketika diundang (lebih tepatnya sih diundang karena saya daftar hi..hi...) untuk ikutan talkshow ini saya senang sekali, temanya pas buat saya, serunya sebelum acara dimulai, kita menyanyikan lagu keluarga berencana jaman Suharto dulu, jadi dilema, kalau ikut nyanyi ketahuan angkatan berapa, tidak ikut nyanyi, lagunya ngangenin ha...ha.

Tema yang diusung Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional BKKBN, membangun keluarga berkualitas dengan cinta terencana, sengaja dipilih karena menuju hari Keluarga Nasional tanggal 29 Juni 2018 nanti, BKKBN ingin menghentikan pernikahan anak di bawah umur.

Miris hati ini ketika melihat ada anak dibawah umur menikah, waaah tidak terbayang Nayla anak saya satu-satunya melakukan hal tersebut.

Karena umur di bawah 20 emosinya masih labil, lebih mengutamakan ego dan emosi, saya saja yang menikah di atas 20 tahun sampai hari kadang masih seperti itu (maaf ya suamiku sayangπŸ’‹). Belum lagi kondisi kandungan yang belum siap, salah satunya bisa terkena kanker servik, tuh ngerikan.  

Pekerjaan rumah buat kami orangtuanya, untuk membentuk generasi ideal yang terencana caranya dengan mengajarkan Nayla tidak menikah dini  atau tidak menikah dibawah usia 21 tahun, tidak melakukan seks bebas, dan tidak memakai narkoba.

Fiuuuh berat ya, padahal untuk saat ini saja, saya menghadapi anak saya calon remaja berusia 11 tahun, agak kesulitan. Kami kehilangan kesempatan untuk tidur bareng bertiga, karena saat ini dia senang untuk tidur sendiri, baca buku, atau sekadar main handphone dengan kamar terkunci.

Saya yang tidak pernah mengunci pintu ketika masih seumur dia karena kamar harus berbagi dengan kakak perempuan satu-satunya di rumah, merasa kehilangan dan tidak mau terima kenyataan dia mulai kepingin sendiri.

Untungnya saya dapat pencerahan dari pembicara kedua di acara talkshow BKKBN, Roslina Verauli, psikolog anak dan keluarga. Menurut Roslina wajar anak se-usia Nayla kepingin sendiri ketika di rumah, masa dimana dia mulai beranjak dewasa dan kepingin punya kebebasan.
Roslina Verauli, Psikolog anak dan keluarga
Ah saya seperti tertampar dan sedih, karena kadang saya teriak meminta Nayla membuka pintunya, padahal dia sedang belajar mengenal dirinya sendiri dan senang karena mempunyai kamar sendiri

Pulang dari talkshow, saya minta maaf sama Nayla karena sering memarahi kebiasaannya sering mengunci pintu kamar. Nayla juga pelan-pelan berubah, dia juga tidak melulu di kamarnya kok, untuk menonton televisi kadang dia di ruang keluarga atau di kamar saya, bahkan tidur siang lebih sering di kamar saya.

Selain itu, kami juga mencoba untuk menguatkan satu sama lain dengan nilai agama di dalam keluarga kecil kami, semoga dengan agama yang kuat, kami bisa tenang melepas Nayla, dimanapun dia mau sekolah dan bekerja nantinya, Aamiin.
  

Jumat, 04 Mei 2018

Pernikahan: Cinta dan Komunikasi

Menikah dan punya anak rasanya jadi impian semua orang, termasuk saya tentunya. Tapi ketika ada perceraian disertai huru hara disekeliling saya, itu kadang yang bikin ciut hati.

Makanya dulu jadi waspada ketika sang pacar jadi cemburuan gak jelas, bahkan cenderung pemarah, wah mending ditinggalin deh, masa saya dimarahin sama anak orang, lagipula saya yang temperamen begini ketemu sama yang temperamen juga, ngebul dong rumah tiap hari.

Ketika akhirnya  berani menikah, karena bekas pacar yang sekarang jadi suami saya ini memang sabaaar banget, kami yang kebetulan sama-sama dari Sumatera, satu ke barat satunya lagi ke selatan ini,  bertemu ketika bekerja di kantor media yang sama.

Awalnya kami memang jadi sahabat dan teman curhat selama 2,5 tahun sampai akhirnya memutuskan pacaran 2,5 tahun juga, setelah putus dari pacar masing-masing.

Berantem pas pacaran pasti adalah, tapi karena rasa nyaman (itu yang paling utama buat saya), kami berdua pendengar curhatan yang baik, sama-sama suka nonton, dia bisa meredakan marah dan kebiasaan jelek saya yaitu ngambek, akhirnya Bismillah saya beranikan diri untuk menikah.

Setelah menikah, saya mulai belajar untuk minta maaf kalau salah atau minta maaf duluan, dan itu belajarnya beraaaaaaat sangat, harus nurunin ego dan gengsi, sampai hari inipun di pernikahan jelang 12 tahun, Desember 2018 nanti, saya masih terus belajar.
Komunikasi setiap hariπŸ’™πŸ’šπŸ’›πŸ’œπŸ’•
Buat kita bertiga (kan sudah ada NaylaπŸ’™), Insya Allah komunikasi kita lancar, walaupun ada berantemnya, sedikit pakai teriak, tapi tiap hari kita pasti ngobrol, atau kalau sempat suami pasti telfon ke rumah untuk ngobrol sama saya dan Nayla.

Soal telfon menelfon ini pernah jadi masalah buat keluarga suami, yang kebetulan buat tante-tante suami yang asli urang awak ini, kebiasaan kami saling telfon ketika berjauhan dianggap sebagai kelakuan istri yang mengekang suami wkwkwkkwkkwkwk karena mereka tidak pernah diperlakukan seperti itu sama suaminya.

Sikap saya ketika dikasih julukan seperti itu, adalah dengan bilang di depan mereka, kami terbiasa bercerita apa saja, tidak ada yang ditutupi, dan lebih banyak suami yang telfon ke rumah, yang paling penting, kalimat nyinyir saya yang sadis saya tutup dengan bilang, pernikahan yang benar dengan berkomunikasi karena cinta bukan cemburu.
hewan kesayangan dan bentuk cincin pernikahan kami
Suami peduli dengan urusan rumah
Nah soal urusan cuci piring, bantuin buang sampah dan soal remeh temeh lain di rumah tangga, kayaknya kok saya senang ya kalau suami ikut turun tangan, karena jadi salah satu bonding kita. 

Hal seperti ini pernah bikin mami saya takjub, ketika melihat suami saya bantuin cuci piring, karena dia tidak pernah melihat anak lelakinya melakukan itu.
Mungkin karena suami saya ketika kuliah sempat kos di Bandung, sehingga jadi mandiri.  Bahkan dia senang-senang saja ke pasar sendirian ketika saya atau Nayla tidak bisa ikut, makanya tukang sayur di pasar lebih kenal dengan dia ketimbang saya.

Tapi untuk urusan kerapihan rumah, beliau tercinta ini tidak terlalu peduli, terasa sekali kalau saya sakit, rumah seperti kapal pecah (kebetulan sejak di apartemen kami tidak memiliki asisten rumah tangga).

Dia dan Nayla sih merapikan rumah, tapi tidak sesuai standart saya pastinya dong 😁. Dengan santai suami saya bilang, "sudah istirahat saja, biar sembuh, lagian gak ada tamu jugakan", ya sudah saya mengalah istirahat di kamar, yang penting piring kotor sudah beres dicuci.

Itu untuk urusan rumah, untuk urusan berdebat sama anak yang ujung-ujungnya masuk ke kamar masing-masing, pesan suami selalu sama, "ingat saja yang lucu-lucunya dari Nayla, nanti kalo dia dewasa dan gak satu rumah pasti kangen, trus jangan marah-marah nanti darah tingginya kumat,"  katanya.

Hiiiks akyu memang darah tinggi, kalau dinasehati seperti ini langsung meleleh, nangis bombay, terus ke kamar Nayla deh buat peluk-peluk. 

Aaah kok jadi curhat soal rahasia rumah ya hi...hi....ini terpicu sama post triger #KEBloggingCollab dari kelompok Mira Lesamana tulisan mak Anis Khoir "Menyikapi perbedaan dalam pernikahan".

Mak Ani bilang, ketika dia dan suaminya memiliki pandangan politik yang berbeda, cari solusi yang benar, bukan berarti harus memutuskan hubungan dan unfollow akun sosial media suaminya. 

Setuju mak, pernikahan tidak sama dengan pendukung fanatik yang baperan, kalau tidak sejalan, langsung unfollow dan bubar jalan.

Kebetulan nih, kalau untuk urusan politik, nonton, bowling, saya dan suami sejalan seirama. Tapi kalaupun berbeda sebisa mungkin saya dan suami saling menghargai satu sama lain, rasanya sayang dan sia-sia harus bertengkar berlama-lama untuk masalah yang tidak penting.

Kalau lagi lelah dan bete, biasanya saya membayangkan hal-hal yang indah ketika liburan keluarga, atau mengingat ucapan-ucapan rasa senang ketika mereka merasakan masakan yang saya buat, atau ketika Nayla takjub melihat buku, mainan atau bajunya sudah selesai di reparasi ala saya.

Bila hal seperti itu tetap tidak bisa menghilangkan rasa jengkel saya, biasanya sih saya coba untuk tidur atau tidak melakukan apa-apa, sambil mengingat betapa kami bertiga saling cinta dan saling sayang.πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™ 
Blog tanggapan #KEBloggingCollab dari kelompok 15 Yohana Susana untuk  post trigger Anis Khoir kelompok Mira Lesmana.

Rabu, 02 Mei 2018

Kuda Laut Juara Dua Lomba Angklung Padaeng X Bandung

Alanis (ini panggilan Nayla di sekolah) mulai mengenal angklung ketika kelas 4 SD. Karena, di SDN Cipinang 01 (dikenal dengan nama SD Kuda Laut), angklung jadi pelajaran wajib sejak kelas 4.

Semua siswa, tanpa terkecuali, akan diajarkan cara memainkan angklung. Nantinya, anak kelas 5 akan mengikuti lomba angklung yang diadakan di Bandung, bersaing dengan SD lainnya dari Jakarta dan Jawa Barat.

Alanis menikmati pelajaran angklung, karena selama ini alat musik yang sering dimainkannya cuma pianika dan suling, he..he…he…..

Ketika naik kelas 5, guru di sekolah sudah memberitahu tentang lomba angklung di Bandung. Hanya ada 45 anak yang akan dipilih dari kelas 5 Mawar dan Melati. 

Jadi, tidak semua akan terpilih untuk ikut lomba. Saat proses seleksi, nama Alanis masuk daftar tim yang akan ikut lomba di Bandung.

Semakin mendekati hari H, latihan angklung semakin intensif. Bukan hanya di jam pelajaran, tetapi juga selesai pelajaran. Terkadang, Alanis dan teman-temannya baru selesai latihan jam 4 sore.

Kebayang kan, Alanis kalau mau pergi sekolah itu bangun jam 5 pagi, trus baru selesai jam 4 sore…. Karena sudah senang dengan angklung, anaknya asik-asik aja meski berangkat pagi dan pulang sore. 

Hari H yang dinanti-nanti pun tiba. 45 siswa SDN Cipinang 01 Jakarta Timur berangkat ke Bandung untuk ikut lomba angklung, Sabtu 28 April 2018. Kumpul di sekolah jam 5.30 pagi.
Hari itu, Alanis bangun jam 4 pagi, karena jam 5.30 harus sudah ada di sekolah. Biasanya susah dibangunin, tapi hari itu lumayan gampang. Alanis dan teman-temannya naik bus Prima Jasa, sedangkan gw sama istri naik mobil pribadi.
Perjalanan Jakarta-Bandung tidak lagi “menyenangkan” kayak dulu. Tol Cikampek muacet karena pembangunan LRT. Perlu waktu 6 jam dari sekolah Alanis sampai ke hotel Salis di area Setiabudi.
Anak-anak langsung makan siang dan sempat istirahat sebentar (ini benar-benar sebentar) karena jam 4 harus latihan angklung lagi sampai jam 6. Setelah itu, istirahat dan makan malam, jam 7 malam latihan lagi sampai jam 9.
Saking lelahnya, Alanis dan teman sekamarnya Nisrina langsung tidur ketika sudah ada di kamar. Pagi-pagi sekali, anak-anak harus sudah ada di lokasi lomba di Gedung Ahmad Sanusi Kampus UPI, Bandung.

Jam 6 tepat, hari Minggu tanggal 29 April 2018, mereka harus blocking panggung. Mereka belajar cara naik ke panggung dan memberikan hormat ke penonton. Prosesi itu tidak sampai satu jam dan anak-anak balik lagi ke hotel untuk sarapan. Karena lokasi hotel yang dekat dengan lokasi lomba, anak-anak jalan kaki pulang dan pergi.
Usai sarapan, masih ada waktu untuk istirahat sebentar sebelum dilakukan proses make up. Karena ada 45 anak yang harus di make up, maka semua harus stand by jam 9.
Tepat jam 11, semua peserta meninggalkan hotel menuju lokasi. Siswa-siswi SDN Cipinang 01 dapat nomor urut 14. Baru pukul 14.30, tim angklung “Kuda Laut” naik ke panggung.
 
Gw dan istri berdebar-debar menantikan penampilan Alanis dan teman-temannya. Lagu pertama “Guruku Tercinta, Guruku Tersayang” ciptaan Melly Goeslow.

Tiba-tiba bulu kuduk merinding ketika lagu itu berkumandang diiringi suara angklung. Medina yang jadi vokalis melantunkan lagu itu dengan penuh semangat. Suara yang keluar dari mulut Medina membuat gw terpukau, terpesona dan lagi-lagi membuat bulu kuduk merinding.

Belum lagi gerakan Alyssa sebagai dirijen, bikin gw takjub. Liukan badan dan juga tangan Alyssa seakan menjadi “penentu’ dari suara yang keluar dari alat musik angklung yang dipegang oleh Alanis dan teman-teman.

Ada tiga lagu yang dibawakan, pertama Guruku Tercinta, Guruku Tersayang, Mars Angklung dan Kompor Mledug. Ketika lagu Kompor Mledug berakhir, gw langsung tepuk tangan sambil berkomentar dalam hati,” Pasti juara.”

Ternyata, setelah anak-anak turun dari panggung, reporter Metro TV yang meliput acara itu, meminta anak SDN Cipinang 01 untuk melakukan syuting usai acara. Proses syuting ini untuk liputan TV berita itu.

Rencana pulang sehabis manggung akhirnya ditunda. Sekitar pukul 4 sore, untuk kali kedua, tim angklung SD Kuda Laut naik ke panggung. Mereka membawakan lagu Guruku Tercinta, Guruku Tersayang dan Kompor Mledug.
Setelah sempat diadakan gim berhadiah, dewan juri pun mengumumkan lima pemenang untuk lomba angklung tingkat SD. Gw sama wali kelas Alanis, Pak Fery, berdiri di luar gedung. “Saya deg-degan, kita dengerin dari luar gedung aja yah, Pak,” kata Pak Fery ke gw.

Mulai dari juara harapan II sampai juara 3, nama SDN Cipinang 01 belum disebut oleh dewan juri. Ketika masuk pemenang juara 2, akhirnya nama SDN Cipinang 01 disebut. Anak-anak, orang tua murid dan guru yang ada di dalam gedung berteriak meluapkan kegembiraan.

Gw dan Pak Fery pun langsung masuk ke gedung. Juara 1 direbut SD Bianglala, Bandung. Ternyata, penghargaan untuk tim angklung Kuda Laut tidak hanya sampai di situ. Medina yang jadi vokalis didapuk sebagai juara 1 dan Alyssa sebagai dirijen terbaik.
Lengkap sudah kegembiraan hari itu. Lelah yang mendera badan sejak pagi sampai jelang Maghrib rasanya hilang seketika. Melihat senyum dan tawa anak-anak tim angklung sudah lebih dari cukup.

Angklung sudah bikin gw terpesona dan berlinang air mata.
Selamat yah Nak….
Bandung 30 April 2018

Ini tulisan suami gw, papanya Alanis di Facebook, yang bangga dengan anak semata wayangnyaπŸ’›πŸ’™πŸ’šπŸ’œπŸ’—
 

Cinta Terencana Resep Jitu Keluarga Berkualitas

M asih ingat kah ketika kecil dulu kita punya impian untuk sekolah apa atau kerja dimana? saya masih ingat sedikit, jadi dokter atau pram...